Hisab dan Rukyat

Tidak ragu lagi Ramadhan di Tanah Air lebih daripada sekadar ibadah puasa, ritual keagamaan Islam. Dalam pengamatan dan bacaan saya tentang Ramadhan di berbagai tempat kaum Muslim di mancanegara, Ramadhan di Indonesia lebih daripada berbagai wilayah Muslim lain, boleh dikatakan sangat heboh.

Kesemarakan itu sangat terlihat, misalnya, di televisi yang mulai tahun ini menyiarkan berbagai acara khusus jauh hari sebelum Ramadhan bermula. Sedangkan dalam masyarakat sendiri, kesibukan dan konsumsi bukan berkurang, melainkan terus meningkat dari hari ke hari Ramadhan menuju Idul Fitri. Pulang mudik adalah puncak segala kesemarakan ibadah puasa dan Lebaran.

Tak kurang hebohnya terkait penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri. Tahun ini kembali terjadi perbedaan di antara Muhammadiyah yang menetapkan 1 Ramadhan pada 9 Juli 2013. Sedangkan, Kementerian Agama berdasarkan pertimbangan ormas-ormas Islam lain, memutuskan awal Ramadhan jatuh pada 10 Juli. Meski berbeda dalam penetapan awal Ramadhan, menurut berbagai kalkulasi, umat Islam Indonesia bakal bersama-sama merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1434 H pada 8 Agustus 2013.

Perbedaan tersebut jelas bukan hanya terjadi di Indonesia dan juga bukan terjadi sekali- dua kali. Perbedaan telah dan bisa terjadi juga di tempat-tempat lain dari satu Ramadhan atau Syawal ke waktu berikutnya.

Sudah diketahui umum, perbedaan penetapan awal Ramadhan dan Syawal bersumber dari perbedaan metodenya. Pada satu pihak mendasarkan penetapan pada hisab, hitungan astronomis peredaran bulan Qamariah, sementara pihak yang satu lagi memegangi rukyat, penglihatan mata yang juga melibatkan bantuan teleskop untuk melihat hilal.

Bagi masyarakat Muslim awam, perbedaan itu sulit dipahami. Hitungan atau astronomis-matematis bagi mereka sama rumitnya dengan kemestian melihat bulan untuk meyakini kapan memulai puasa atau mengakhirinya. Banyak kalangan awam dan juga elite Muslim hanya tahu, salah satu implikasi metode hisab dan rukyat adalah ketidaksatuan umat dalam memulai dan mengakhiri puasa. Ada rasa frustrasi melihat kenyataan sulitnya pemimpin umat mencapai kesepakatan.

Dalam satu segi, Muslim Indonesia ‘sedikit beruntung’ karena jadwal libur Idul Fitri biasanya dua hari ditambah lagi dengan libur atau cuti bersama. Dengan begitu, Muslim Indonesia tidak kesulitan dalam soal waktu dan kegiatan ketika akhir Ramadhan juga berbeda.

Keadaannya menjadi sangat berbeda bagi kaum minoritas Muslim di Amerika Utara dan Eropa. Beberapa negara Eropa, seperti Jerman dan Inggris, atau negara bagian tertentu di Amerika Serikat yang sudah bersedia mengakui Idul Fitri dan Idul Adha sebagai hari libur resmi-masing-masing hanya satu hari.

Namun, penetapan libur resmi pada tanggal pasti sulit dilakukan pemerintah di Eropa dan Amerika. Masalahnya, para pemimpin dan organisasi Islam yang sering berbasis etnis dan bangsa, baik migran maupun pribumi setempat, sulit sekali bersepakat tentang tanggal pasti jatuhnya Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Padahal, jika kedua hari besar Islam ini bisa ditetapkan, konsekuensinya bisa banyak. Jika kedua hari raya Islam itu diakui pemerintah setempat, pastilah meningkatkan syiar Islam dan sekaligus pengakuan atas keberadaan Islam dan kaum Muslim. Bahkan, seperti pada hari libur resmi lain, misalnya, mahasiswa Muslim yang harus menempuh ujian bisa mendapat privilese sepenuhnya untuk mengambil ujian pada hari lain. Para dosen dan guru besar wajib menghormati ‘hak istimewa’ tersebut atas prinsip kebebasan beragama dan multikulturalisme.

Jika penetapan tanggal kedua Hari Raya Islam dapat dipastikan, pemerintah kota seperti New York, juga mungkin pada kedua hari libur Islam tersebut menerapkan parking regulation is suspended, ketentuan parkir kendaraan bermotor di pinggir jalan tidak diberlakukan. Hasilnya, mobil yang semestinya dipindahkan dari satu sisi jalan ke sisi lain-karena pinggir jalan harus dibersihkan-tidak dikenakan tiket alias tilang.

Begitu banyak konsekuensi positif jika kaum Muslim dapat bersepakat dalam penetapan awal dan akhir Ramadhan. Karena manfaatnya demikian besar, sangat elok jika masing-masing pihak yang memegangi hisab pada satu pihak dan rukyat pada pihak lain dapat saling kompromi dan akomodatif.

Indonesia pernah punya peluang baik untuk mencapai kompromi dan akomodasi itu ketika Wakil Presiden Jusuf Kalla pada 2008-2009 mengambil inisiatif mengumpulkan ormas-ormas Islam dalam dua kali pertemuan masing-masing di kantor PP Muhammadiyah dan PBNU. Dalam kedua pertemuan tersebut kesepakatan sudah hampir tercapai. Sayangnya, pertemuan ketiga yang direncanakan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk finalisasi kesepakatan tidak dapat terselenggara karena kesibukan menjelang Pemilu 2009.

Inisiatif seperti itu perlu kembali dibangkitkan. Pertemuan ad hoc semacam sidang itsbat yang diselenggarakan Kementerian Agama satu atau dua hari sebelum awal dan akhir Ramadhan jelas jauh daripada memadai untuk bisa mendialogkan perbedaan guna mencapai kompromi dan kesepakatan.

Karena itu, perlu kehadiran tokoh berwibawa yang memiliki kredibilitas dan leverage yang bisa diterima kedua pihak hisab dan rukyat. Ditambah kemauan dan keikhlasan semua pihak mengurangi ‘gengsi’ masing-masing soal hisab dan rukyat menjadi lebih mungkin dikompromikan. Jika ini bisa dicapai, pasti menjadi sumbangan besar Muslim Indonesia pada kemaslahatan umat secara keseluruhan.

Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A

Idul Adha 1435 H dan Konsistensi Sistem Kalender Islam

TAHUN ini di belahan dunia akan terjadi tiga hari raya Idul Adha 1435, yaitu tanggal 4 Oktober 2014, 5 Oktober 2014, dan 6 Oktober 2014. Mayoritas media yang terbit di kawasan Timur Tengah pada hari Kamis 25 September 2014 menginformasikan tanggal 1 Zulhijah 1435 jatuh pada hari Kamis bertepatan dengan tanggal 25 September 2014. Laman “The Jordan Time” melaporkan bahwa ketua Mahkamah Syariah Jordania, Ahmad Hilayel menyatakan bahwa Idul Adha 1435 jatuh pada hari Sabtu 4 Oktober 2014.

Begitu pula harian “Saudi Gazette” melaporkan bahwa Mahkamah Tinggi Saudi Arabia menetapkan tanggal 1 Zulhijah 1435 jatuh pada hari Kamis 25 September 2014. Hal ini didasarkan pada laporan keberhasilan melihat hilal yang disaksikan oleh dua orang saksi yang adil dan bersesuaian dengan kalender Ummul Qura, maka wukuf di Arafah jatuh pada hari Jum’at 3 Oktober 2014 dan Idul Adha jatuh pada hari Sabtu 4 Oktober 2014. Keputusan Saudi Arabia ini diikuti berbagai negara di kawasan Timur Tengah dan belahan dunia yang lain seperti Belanda, Spanyol, Inggris, Denmark, dan Fiqh Council of North America (FCNA) sebagaimana disampaikan oleh Muzammil Siddiqi.

Menurut laman Islamic Crescents’ Observation Project (ICOP) menyebutkan ada enam belas negara yang akan melaksanakan Idul Adha 1435 pada hari Sabtu 4 Oktober 2014. Berbeda dengan laman ICOP, moonsighting.com mengabarkan ada enam puluh enam negara ayang akan melaksanakan Idul Adha 1435 pada hari Sabtu 4 Oktober 2014. Negara-negara dimaksud diantaranya Saudi Arabia, Bahrain, Mesir, Iraq, Jordania, Kuwait, Libanon, Libya, Belanda, Spanyol, dan Jerman. Persyarikatan Muhammadiyah juga menetapkan Idul Adha 1435 jatuh pada hari Sabtu 4 Oktober 2014. Keputusan ini didasarkan pada hisab wujudul hilal.

Selanjutnya menurut laman moonsighting ada delapan belas negara yang akan melaksanakan Idul Adha 1435 jatuh pada hari Ahad 5 Oktober 2014 diantaranya, yaitu Yaman, Tanzania, Afrika Selatan, Zambia, dan Kenya. Semua negara anggota MABIMS (Indonesia, Malaysia, Brunai Darussalam, dan Singapore) juga menetapkan Idul Adha 1435 jatuh pada hari Ahad 5 Oktober 2014. Mufti Negara Singapore Mohamed Fatris Bakaram pada hari Rabu 24 September 2014 pukul 7.28 waktu setempat mengumumkan bahwa tanggal 1 Zulhijah 1435 jatuh pada hari Jum’at 26 September 2014 dan Idul Adha 1435 jatuh pada hari Ahad 5 Oktober 2014.

Kementerian Agama Republik Indonesia dalam sidang Itsbat yang dipimpin oleh Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar menerima laporan dari tujuh puluh titik observasi di seluruh Indonesia. Berdasarkan laporan tersebut tidak ada satupun yang menyatakan melihat hilal sehingga bulan Zulhijah digenapkan menjadi tiga puluh hari (istikmal) dan awal bulan Zulhijah 1435 jatuh pada hari Jum’at 26 September 2014. Dengan demikian Idul Adha atau 10 Zulhijah 1435 bertepatan hari Ahad 5 Oktober 2014. Hilal Sighting Committee of North America (HSCNA) juga menetapkan Idul Adha 1435 jatuh pada hari Ahad 5 Oktober 2014. Begitu pula Australian National Crescent Sighting Coordination Centre (ANCSCC) mengabarkan bahwa tanggal 1 Zulhijah 1435 jatuh pada hari Jum’at 26 September 2014 dan Idul Adha 1435 jatuh pada hari Ahad 5 Oktober 2014.

Sementara itu laman ICOP dan moonsighting mengabarkan ada lima negara yang akan melaksanakan Idul Adha 1435 hari Senin 6 Oktober 2014, yaitu Banglades, India, Oman, Pakistan, dan Srilanka. Kesemuanya menggenapkan bilangan bulan Zulkaidah menjadi tiga puluh hari karena tidak ada laporan keberhasilan melihat hilal.

Berdasarkan data di atas dan memperhatikan sistem kalender Islam yang berkembang di Dunia Islam nampak terjadi inkonsistensi dalam membangun sebuah kalender. Dalam konteks Indonesia selama tahun 1435 dari Muharam hingga Zulhijah dapat dinyatakan bahwa (1) jika data hasil perhitungan menunjukkan posisi hilal di atas ufuk dan memenuhi syarat visibilitas hilal MABIMS maka tidak ada laporan keberhasilan melihat hilal kecuali pada bulan Syawal, (2) jika data hasil perhitungan menunjukkan posisi hilal di bawah ufuk dan memenuhi syarat visibilitas hilal MABIMS maka tidak ada laporan keberhasilan melihat hilal, dan (3) jika data hasil perhitungan menunjukkan posisi hilal di atas ufuk namun belum memenuhi syarat visibilitas hilal MABIMS maka ada laporan keberhasilan melihat hilal namun tidak dapat diterima. Kasus ketiga ini seperti terjadi pada penentuan awal Ramadan 1435. Dengan kata lain sistem kalender yang menggunakan teori wujudul hilal relatif lebih konsisten dibandingkan yang lain.

 Akhirnya saya ingin mengingatkan kembali kepada pemerintahan yang baru, khususnya kepada bapak Jusuf Kalla untuk melanjutkan gagasannya yang telah dirintis sejak 2007 mewujudkan kalender Islam pemersatu demi kemajuan peradaban Islam ke depan.

Wa Allahu A’lam bi as-Sawab.

Bukit Angkasa, 5 Zulhijah 1435/29 Juli 2014, pukul 06.30 AM.

 

 

Susiknan Azhari

Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam

Hilalku dan Hilalmu menuju Hilal Kita

 FENOMENA penentuan awal Syawal senantiasa menarik perhatian masyarakat luas, khususnya para pemerhati dan pengkaji studi astronomi Islam. Hal ini terkait dengan anggitan hilal yang diyakini dan dipraktikkan. Pada kasus penentuan awal Syawal 1435 di dunia Islam terjadi perbedaan. Menurut laporan Islamic Crescent’s Observation Project (ICOP) terdapat 20 negara yang menentukan awal Syawal 1435 jatuh pada hari Senin bertepatan dengan tanggal 28 Juli 2014, yaitu Aljazair, Bahrain, Mesir, Ghana, Indonesia, Irak, Yordan, Kuwait, Libanon, Libya, Malaysia, Palestina, Qatar, Saudi Arabia, Sudan, Syiria, Tunisia, Turki, Uni Emirat Arab, dan Yaman.

Sementara itu yang lain menetapkan awal Syawal 1435  jatuh pada hari Selasa bertepatan dengan tanggal 29 Juli 2014 berjumlah tujuh negara, yaitu Banglades, Brunai Darussalam, Iran, Maroko, Oman, Srilangka, dan Tanzania. Selain itu ada pula yang menetapkan awal Syawal 1435 jatuh pada hari Ahad bertepatan dengan tanggal 27 Juli 2014 yaitu Nigeria dan Tariqat Naqsyabandiyah Padang Indonesia.

Selanjutnya ICOP juga melaporkan bahwa para anggota yang melakukan observasi pada hari Ahad tanggal 27 Juli 2014 di berbagai belahan dunia dan berhasil melihat hilal hanya tiga orang yaitu Martin Elsaesser di kota Munich dengan menggunakan Charge Couple Device (CCD) Imaging, Mohammad Odeh di kota Amman dengan menggunakan CCD Imaging, dan Abdelhamid Bentchikou di kota Faaa dengan mata telanjang.

Begitu pula di kawasan MABIMS yang berhasil melihat hilal awal Syawal 1435 hanya Indonesia. Menurut pemaparan Direktur Urusan Agama Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Muchtar Ali pada saat sidang isbat yang dipimpin oleh Menteri Agama RI Lukman Hakim Saefuddin bahwa tim observasi yang disebar pada 111 lokasi observasi di seluruh Indonesia yang berhasil melihat hilal ada tiga tempat yaitu Pelabuhan Ratu Sukabumi, Bukit Condrodipuro Gresik, dan Kolaka Sulawesi Tenggara.

Kasus ini menarik untuk dikaji ulang, khususnya di kawasan anggota MABIMS. Pertama berdasarkan data hisab secara umum kawasan MABIMS telah memenuhi teori visibilitas hilal yang disepakati. Namun dalam praktiknya hanya wilayah Indonesia yang berhasil melihat hilal. Kedua, bahwa teori visibilitas hilal apapun yang digunakan belum mampu meyakinkan dan terulang secara berkesinambungan.

Pada kasus pertama menunjukkan implementasi teori visibilitas hilal MABIMS berbeda-beda. Singapore dan Malaysia menggunakannya secara konsisten dalam pembuatan kalender Islam sejak Muharam hingga Zulhijah tidak menunggu hasil observasi sehingga diperoleh kepastian jauh-jauh hari. Artinya “menutup ketidakpastian diutamakan demi terwujudnya kalender Islam”. Pemerintah Indonesia dan Brunai Darussalam menjadikan teori visibilitas hilal MABIMS sebagai pemandu untuk melakukan observasi menentukan awal Ramadan dan Syawal. Dengan kata lain sebagai penentu untuk menetapkan awal Ramadan dan Syawal adalah observasi (rukyatul hilal) di lapangan.

Hanya saja, selama ini di Indonesia jika berdasarkan data hisab posisi hilal sudah memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS maka ada laporan keberhasilan melihat hilal sehingga dalam menentukan awal Ramadan dan Syawal dapat bersamaan dengan teori wujudul hilal yang digunakan Muhammadiyah, sedangkan di Brunai Darussalam meskipun data hisab menunjukkan posisi hilal telah memenuhi teori visibilitas hilal MABIMS namun dalam praktiknya seringkali hilal tidak terlihat. Sehingga negara Brunai Darussalam sering berbeda dengan anggota MABIMS lainnya dalam memulai Ramadan dan Syawal. Bukti kongkretnya adalah penentuan awal Syawal tahun ini. Mayoritas anggota MABIMS menentukan awal Syawal 1435 jatuh pada hari Senin 28 Juli 2014, sedangkan Brunai Darussalam menentukan awal Syawal 1435 jatuh pada hari Selasa 29 Juli 2014 karena pada hari Ahad tanggal 27 Juli 2014 tim pengamat hilal tidak berhasil melihat hilal. Oleh karena itu bulan Ramadan 1435 disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal).

Hal ini juga dilaporkan oleh Hilal Sighting Committee of North America (HSCA) dan Australian National Crescent Sighting yang menetapkan awal Syawal 1435 jatuh pada hari Selasa 29 Juli 2014 karena pada hari Ahad tanggal 27 Juli 2014 tim pengamat hilal tidak berhasil melihat hilal.

Pada kasus kedua tergambar bahwa anggitan visibilitas hilal belum memiliki epistemologi yang mapan. Terbukti antara teori dan praktik di lapangan sering tidak bersesuaian sehingga perlu adanya redefinisi terhadap anggitan visibiltas hilal. Langkah ini perlu ditempuh agar pemahaman terhadap hilal tidak terjebak pada subjektivitas masing-masing. Hilalku dan hilalmu perlu diwujudkan menjadi “hilal kita”. Perubahan paradigm ini tentu saja memerlukan kesiapan berbagai pihak untuk berkorban demi terwujudnya kalender Islam yang dapat diterima semua pihak.

 Wa Allahu A’lam bi as-Sawab.

Bukit Angkasa, 29 Syawal 1435/25 Agustus 2014, pukul 06.30 AM.

 

 

Susiknan Azhari

 

Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam

Dinamika Imsakiah di Indonesia

 KATA IMSAKIAH berasal dari bahasa Arab (amsaka – yumsiku berarti menahan diri). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia halaman 428 istilah “imsakiah” diartikan jadwal yang menetapkan waktu salat. Sementara itu Hans Wehr dalam “A Dictionary of Modern Written Arabic” mendefinisikan imsakiah adalah calendar of fasting during the month of Ramadan”. Di Indonesia anggitan imsakiah merupakan jalan keluar sekaligus jalan tengah untuk menjembatani pelaksanaan ibadah puasa Ramadan dengan memberikan batas 10 menit sebelum tiba waktu Subuh.

Imsakiah mulai berkembang pasca rasulullah, khususnya pada zaman keemasan Islam. Berbagai dokumen sejarah menginformasikan pada saat itu bermunculan imsakiah yang sangat indah hasil kerja para astronom muslim dan kaligrafer.

Di era modern imsakiah berkembang di belahan dunia. Kawasan Timur Tengah  imsakiah beredar saat bulan suci Ramadan dengan model tulisan arab yang indah. Begitu pula di kawasan Amerika, Australia, dan Eropa sebagian besar imsakiah menggunakan bahasa lokal. Kehadirannya sangat dinantikan umat Islam untuk dijadikan pedoman dalam melaksanakan ibadah Ramadan. Khusus di Indonesia imsakiah mengalami perkembangan yang luar biasa. Mula pertama imsakiah berbentuk sangat sederhana dan beredar sangat terbatas. Proses perhitungan dilakukan secara manual. Bahan yang digunakan kertas dan diketik secara manual pula tanpa desain.

Muhammadiyah sebagai pelopor penggunaan hisab di Indonesia sangat berperan dalam memasyarakatkan imsakiah. Hal ini dapat ditemukan dalam berbagai dokumen sejarah perkembangan pemikiran hisab di Indonesia. Pada periode awal penggunaan komputer imsakiah dibuat dengan program  DOS dan dicopy dalam jumlah tertentu. Periode ini bentuk imsakiah masih sederhana seperti sebelumnya. Hanya proses pembuatannya sudah melibatkan teknologi komputer dan printer.

Selanjutnya pada era teknologi informasi pembuatan imsakiah sangat mudah dan cepat karena proses perhitungan dibantu berbagai macam software awal waktu salat. Sebelumnya proses perhitungan imsakiah memerlukan waktu beberapa jam bahkan beberapa hari. Namun kini proses perhitungan imsakiah hanya memerlukan waktu beberapa menit. Selain proses yang cepat kehadiran imsakiah sekarang didukung desain grafis yang sangat memadai sehingga hasilnya nampak indah dan menarik.

Dalam praktiknya imsakiah hadir menjelang Ramadan. Hampir semua media massa memuat imsakiah dengan beragam bentuk dan sumber rujukan. Harian nasional, seperti harian Republika, Kompas, dan Media Indonesia tidak mencantumkan sumber rujukan.  Republika memuat imsakiah harian di halaman depan bagian atas yang terdiri Imsak, Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya dan disertai konversi. Khusus waktu Imsak dan Magrib dicetak besar agar mudah terbaca. Media Indonesia memuat imsakiah setiap hari pada halaman depan bagian bawah terdiri Magrib dan Imsak. Sementara itu harian Kompas memuat imsakiah dua hari pada halaman depan bagian bawah sebelah kiri terdiri Imsak, Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya.

Begitu pula harian lokal seperti Harian Yogya dan Radar Yogya tidak memuat sumber rujukan. Harian Yogya memuat imsakiah di bawah logo “Harian Jogja” tertulis Jadwal Imsakiyah untuk Kawasan DIY dan sekitarnya terdiri Imsak, Subuh, dan Magrib setiap hari. Radar Jogja memuat imsakiah seperti Harian Jogja hanya letaknya di bagian bawah. Berbeda dengan Harian Jogja dan Radar Jogja, harian Kedaulatan Rakyat memuat imsakiah secara utuh sejak Imsak sampai Isyak dan merujuk sumber dari Kementerian Agama Kanwil Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Berdasarkan data di atas ditemukan perbedaan dalam mencantumkan waktu Imsak. Pada tanggal 6 Juli 2014 harian Republika dan Media Indonesia menyebutkan waktu Imsak = 04.32 WIB, sedangkan harian Kompas menyebutkan waktu Imsak = 04.33 WIB. Hal ini juga terjadi pada harian yang beredar di Yogyakarta, seperti pada tanggal 29 Juni 2014 Radar Jogja dan Harian Jogja memuat waktu Imsak = 04.20, Subuh = 04.30, Magrib = 17.34. Adapun harian Kedaulatan Rakyat memuat waktu Imsak = 04.21, Subuh = 04.31, dan Magrib = 17.35 WIB.

Selain media massa, di Yogyakarta juga beredar berbagai macam imsakiah yang dikeluarkan oleh lembaga dan masjid. Mayoritas imsakiah tersebut merujuk pada hasil perhitungan Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dalam perjalanannya kini sumber yang dirujuk selain Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah adalah Kementerian Agama RI dan Rukyatul Hilal Indonesia.

Dari uraian di atas dapat dinyatakan bahwa perkembangan imsakiah di Indonesia mengalami kemajuan sesuai tuntutan zaman baik proses perhitungan maupun desain yang ditampilkan. Meskipun proses dan perhitungan imsakiah lebih mudah dan cepat namun perlu diperhatikan ketelitian dan kesesuain data dalam membuat imsakiah satu wilayah agar tidak menimbulkan masalah baru.

Wa Allahu A’lam bi as-Sawab.

Bukit Angkasa, 28 Ramadan 1435/25 Juli 2014, pukul 06.30 AM.

 Susiknan Azhari

 Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam

Observatorium dan Kemajuan Bangsa

 DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia halaman 794 observatorium diartikan gedung yang dilengkapi alat-alat (teleskop, teropong bintang, dsb) untuk keperluan pengamatan dan penelitian ilmiah tentang bintang dsb, sedangkan dalam studi astronomi Islam seringkali diistilahkan dengan “marshad”. Aydin Sayili dalam bukunya yang berjudul “The Observatory in Islam” terbit pertama pada tahun 1960 menjelaskan perkembangan observatorium dari awal hingga era modern. Berbagai literatur lain menyebutkan rintisan pembuatan observatorium telah dimulai pada zaman Umayyah. Menurut Drayer sebagaimana dikutip Aydin Sayili pada masa kekhalifahan Umayyah telah dibangun observatorium dekat kota Damaskus. Pandangan ini dikuatkan oleh Pushmann. Selanjutnya ia menyatakan pada masa kekhalifahan Umayyah telah dibangun beberapa observatorium di kota Damaskus.

Pada masa Abbasiyyah khususnya era al-Ma’mun perkembangan observatorium mengalami peningkatan yang luar biasa. Pihak penguasa memberi perhatian dalam pembangunan observatorium. Khalifah al-Ma’mun membangun observatorium Syammasiyah dekat Baghdad. Hal ini dilakukan agar ilmu astronomi Islam dan ilmu pengetahuan yang lain dapat dikembangkan lebih jauh melalui berbagai riset untuk menemukan “teori baru”. Bangunan observatorium ini kemudian digunakan para ilmuwan, seperti al-Khawarizmi dan al-Biruni.

Pada saat itu menurut David A King salah satu aktivitas penting yang dilakukan para astronom adalah melakukan pengukuran koordinat geografis kota Mekah secara akurat agar arah kiblat kota Baghdad dapat ditentukan. Ibn Yunus salah seorang tokoh astronomi Islam abad 11 menjelaskan arah kiblat kota Mesir dalam buku yang berjudul Hakimi Zij Ibn Yunus. Sementara itu al-Khalili (1375 M/777 H) menjelaskan 3000 arah kiblat kota-kota besar sedunia.

Selanjutnya pada pertengahan abad ketiga belas didirikan observatorium Maragha atas inisiatif Hulagu dan dikoordinir oleh Nashiruddin at-Tusi. Menurut Aydin Sayili biaya pembangunan observatorium berasal dari keluarga Hulagu yang pembangunannya dimulai pada bulan Jumadil Awal 657 H/April-Mei 1259 M. Pada abad kelima belas didirikan observatorium Samarkand. Pembagunan observatorium ini diprakarsai oleh Timur (771-808 H/1369-1405 M) yang berusaha menjadikan kota Samarkand sebagai pusat peradaban Islam di kawasan Timur atau diistilahkan “Renaissance in Islamic Art”. Gagasan ini direspons positif oleh Muhammad Turgay Ulugh yang merupakan cucu dari Timur. Ulugh Bey memiliki minat yang tinggi di bidang astronomi. Bagi Ulugh Bey gagasan pembangunan observatorium perlu diapresiasi karena saat itu dikhotomi keilmuan kurang menguntungkan bagi kemajuan Islam. Kebetulan dia sedang menjabat sebagai gubernur di Khurasan sehingga memiliki kekuatan untuk mewujudkan impiannya mengintegrasikan antara “teologi dan sains” melalui pembangunan observatorium dan madrasah sekaligus. Kehadiran observatorium dan madrasah dijadikan jembatan untuk mendialogkan persoalan-persoalan agama dan sains. Dari sini lahirlah berbagai karya monumental. Salah satu karya terpenting yang hingga kini masih menjadi bahan kajian di bidang astronomi Islam, yaitu “Zij Ulugh Bey”.

Tak kalah penting pada abad keenam belas didirikan observatorium Istanbul. Pendirian observatorium ini dilatarbelakangi pertemuan Taqi al-Din Muhammad Rashid Ibn Ma’ruf dengan salah seorang astronom terkenal ketika menjabat sebagai hakim di Mesir. Hasil pertemuan ini menginspirasi Taqi al-Din untuk membangun observatorium di kota Istanbul. Kemudian Taqi al-Din mempersiapkan proposal yang bagus dan dipresentasikan di depan tim ahli. Akhirnya Sultan mengabulkan pendirian observatorium di kota Istanbul.

Pada masa kini di belahan dunia Islam terdapat berbagai observatorium yang digunakan sebagai pos observasi, seperti observatorium Hilwan Mesir, King Abdul Aziz City for Science and Technology (KACST) Saudi Arabia, dan Balai Cerap Al-Khawarizmi Malaka Malaysia. Keberadaan ketiga observatorium ini memberi kontribusi positif bagi pengembangan studi astronomi Islam, khususnya berkaitan dengan kalender Islam. Observatorium Hilwan dan KACST setiap tahun menerbitkan data observasi awal bulan kamariah dengan judul “Dalil al-Falaky”dan “Ahwal al-Ahillah”, sedangkan Balai Cerap Al-Khawarizmi melakukan observasi setiap awal bulan kamariah. Indonesia sebagai negara yang berpenduduk mayoritas muslim juga memiliki observatorium yang megah. Salah satunya adalah Observatorium Bosscha. Menurut hemat penulis keberadaannya perlu dimaksimalkan untuk mewujudkan “Zij Indonesia”. Investasi di bidang riset perlu kiranya diindahkan oleh penentu kebijakan. Apalagi jika “Indonesia Maju dan Berdaulat” ingin diwujudkan maka kehadiran berbagai observatorium dalam arti luas mendesak dicanangkan oleh pemerintahan yang baru ke depan.

Wa Allahu A’lam bi as-Sawab.

Bukit Angkasa, 14 Jumadil akhir 1435/ 14 April 2014, pukul 03.30 AM

Susiknan Azhari

 

Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam