Anggitan Hilal dan Penyatuan Kalender Islam

26 Februari 2018

Para ilmuwan telah membagi ilmu yang beragam. Secara umum pembagian itu menjadi dua macam yaitu ilmu pengetahuan alam (natural science) dan ilmu pengetahuan sosial (social science). Sementara itu Ibn Khaldun dalam “Muqaddimah” membagi ilmu menjadi dua bagian yaitu ilmu-ilmu rasional (al-‘Ulum al-‘Aqliyah) dan ilmu-ilmu agama (al-‘Ulum al-Naqliyah). Yang termasuk ilmu rasional adalah logika, matematika, fisika, dan metafisika, sedangkan bagian ilmu religius adalah ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu fikih, teologi, dan tasawuf. Dalam perjalanannya konsep yang dikembangkan Ibn Khaldun ini sangat mempengaruhi pola pikir yang berkembang di masyarakat dan mengakibatkan pola pikir dikotomis. Hal ini dibuktikan dengan penggunaan istilah “ilmu umum” dan “ilmu agama”.

Pada masa lalu penggunaan ilmu umum dan ilmu agama berimplikasi dalam kehidupan masyarakat. Seringkali muncul stigma orang yang mempelajari ilmu umum dianggap lebih “unggul” dan siap menghadapi kehidupan bahkan memperoleh posisi yang relatif lebih baik dalam pekerjaan. Sebaliknya orang-orang yang mempelajari ilmu-ilmu agama terkesan marginal dan muncul anggapan hanya akan menjadi, seperti “modin”, muadzin, dan “ustadz”. Cara pandang seperti ini berjalan cukup lama dan mungkin sampai sekarang masih tersisa.

Memperhatikan realitas ini berbagai pihak menawarkan gagasan perlunya pendekatan interdisipliner atau multidisipliner dalam menyelesaikan berbagai problem kehidupan sehingga diharapkan dapat menghasilkan solusi yang lebih komprehensif-intergratif. Dengan kata lain perlu mengintegrasikan atau menginterkoneksikan dua rumpun keilmuan yang memiliki epistemologi yang berbeda. Kaitannya dengan persoalan penyatuan kalender Islam juga tidak bisa dilepaskan dengan dikotomi keilmuan yang berkembang. Salah satu problem mendasar penyatuan kalender Islam adalah anggitan hilal yang hingga kini belum ada titik temu.

Sebagian pihak meyakini hilal itu bersifat empiris dan terukur. Pihak lain beranggapan hilal itu bersifat eksistensialis. Jika hal ini dihubungkan dengan pembagian ilmu menurut Ibn Khaldun  maka ada dua kemungkinan. Pertama “hilal fisik” termasuk rumpun ilmu rasional. Kedua “hilal dalam teks” termasuk rumpun ilmu agama. Dalam kasus semacam ini tidak mengherankan lahir berbagai pandangan tentang hilal. Misalnya muncul istilah “hilal astronomi”, “hilal syar’i”, dan “hilal meteorologi”. Kesemuanya dalam kerangka mencari makna “hilal hakiki”. Di sinilah diperlukan pemikiran yang mendalam untuk mempertemukan anggitan hilal perspektif ilmu rasional dan ilmu agama.

Sebagaimana diketahui antara ilmu rasional dan ilmu agama memiliki basis epistemologi yang berbeda. Ilmu rasional (kealaman) memiliki keteraturan dan keterulangan yang dapat diamati, dikukur, dan dibuktikan, sedangkan ilmu agama bersumber pada teks (al-Qur’an dan hadis). Dalam kasus hilal baik al-Qur’an maupun hadis menyebutnya di berbagai tempat. Akibatnya muncul beragam penafsiran terhadap kata “hilal”, mengapa? Karena teks hadis tidak dapat lepas dengan konteks yang mengitari ketika hadis tersebut dituturkan. Tampaknya konsep hilal menurut ilmu rasional dn ilmu agama memiliki perbedaan yang mendasar dan diperlukan jembatan untuk memadukannya dalam sebuah anggitan yang komprehensif-integratif.

Kecenderungan selama ini proses memadukan belum memasuki wilayah substantif hilal itu sendiri tetapi baru menyentuh metode untuk menemukan hilal yaitu metode hisab dan rukyat menjadi imkanur rukyat (visibilitas hilal). Jika proses integrasi ke wilayah substantif hilal itu dapat dilakukan maka tidak perlu muncul lagi istilah hilal astronomi, hilal syar’i, dan hilal meteorologi. Cukup menggunakan istilah “hilal” semata.  Astronomi, syari’ah, dan meteorologi hanyalah bagian dari pendekatan interdisipliner. Dengan demikian upaya penyatuan kalender Islam akan mengalami kemudahan. Sebaliknya jika upaya perumusan anggitan hilal belum ada titik temu dan belum terumuskan secara jelas maka akan menghambat langkah-langkah berikutnya dalam upaya penyatuan kalender Islam.

Kasus penentuan awal Jumadil Awal 1439 H yang lalu merupakan gambaran belum adanya kesatuan konsep hilal dalam perumusan kalender Islam, khususnya di Indonesia. Data hasil perhitungan menunjukkan bahwa ijtimak awal Jumadil Awal 1439 H terjadi pada hari Rabu 17 Januari 2018 pukul 09.17 WIB. Ketinggian hilal di Wilayah Indonesia Barat (wilayah Sumatera, Jakarta, Serang, Bandung, Pelabuhan Ratu, dan Pontianak) di atas dua derajat. Sementara itu di Wilayah Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Wilayah Indonesia Tengah (WITA), dan Wilayah Indonesia Timur (WIT). Pada kalender Islam yang berkembang di Indonesia yaitu Kalender Muhammadiyah, Almanak Nahdlatul Ulama, dan Taqwim Standar Indonesia menetapkan awal Jumadil Awal 1439 H jatuh pada hari Kamis 18 Januari 2018.

Namun dalam praktiknya muncul perbedaan karena pada hari Rabu 17 Januari 2018 para pemburu hilal di seluruh wilayah Indonesia tidak berhasil melihat hilal. Nahdlatul Ulama mengeluarkan “Ikhbar” yang ditandatangi oleh Ketua Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama K.H. Ghozalie Masroeri menetapkan awal Jumadil Awal 1439 H jatuh pada hari Jum’at 19 Januari 2018 atas dasar istikmal. Keputusan ini sama dengan Almanak Islam PERSIS yang menetapkan awal Jumadil Awal 1439 H jatuh pada hari Jum’at 19 Januari 2018 atas dasar hisab dengan kriteria imkanur rukyat. Kasus senada juga terjadi di Tingkat internasional dalam menentukan awal Jumadil Akhir 1439 H. Islamic Crescents’ Observation Project (ICOP) melaporkan ada 10 negara yang menetapkan awal Jumadil Akhir 1439 H jatuh pada hari Sabtu 17 Februari 2018 dan ada 4 negara yang menetapkan awal Jumadil Akhir 1439 H jatuh pada hari Ahad 18 Februari 2018.

Dengan memperhatikan kasus di atas perlu dipikirkan bersama “strategi baru” bahwa untuk membangun “kriteria” awal bulan kamariah sepatutnya diawali melalui kesepakatan anggitan hilal terlebih dahulu sehingga proses selanjutnya lebih mudah dan memiliki basis epistemologi yang kuat. Selama ini pertemuan dan diskusi seputar penyatuan kalender Islam lebih terfokus pada kriteria. Akibatnya antara teks dan realitas seringkali terjadi ketidaksesuaian.

Wa Allahu A’lam bi as-Sawab.

Bukit Angkasa, 9 Jumadil Akhir 1439/25 Februari 2018, pukul 5.30 WIB

 

Susiknan Azhari

Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam.