Dinamika Sidang Isbat

03 Juni 2019

Akhir-akhir ini terminologi “sidang isbat” sangat dikenal masyarakat, khususnya saat menjelang penentuan awal Ramadan dan Syawal. Bahkan kini berbagai stasiun televisi menyiarkan langsung dialog seputar sidang isbat.¬† Menurut Zaini Ahmad Noeh penggagas awal sidang isbat adalah Menteri Agama K.H. Masjkur. Kehadiran sidang isbat didasari keinginan untuk menyatukan madzab hisab dan rukyat. Selanjutnya pada era Menteri Agama Syaifuddin Zuhri diselenggarakan sidang isbat pertama di Jakarta untuk menentukan awal Ramadan dan Syawal 1381 H. Hasil sidang isbat memutuskan awal Ramadan 1381 H jatuh pada hari Selasa 6 Februari 1962 berdasarkan hasil rukyat di Pelabuhan Ratu oleh K.H. Badruddin bin Jahja, H. Mochd. Cholil, dan Moch. Ma’mur bin Roziq. Sementara itu awal Syawal 1381 jatuh pada hari Kamis 8 Maret 1962 berdasarkan istikmal. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kehadiran sidang isbat benar-benar ingin mengapresiasi dua madzab yang berkembang sebelum terwujudnya penyatuan antara madzab hisab dan rukyat. Artinya jika hilal tidak mungkin dilihat maka sidang isbat bisa dilakukan tanpa harus menunggu hasil observasi di Lapangan dan pelaksanaannya dapat disatukan.
Pada tahun 1963 sidang isbat awal Ramadan dan Syawal mulai dipisah. Dalam perjalanannya sidang isbat mengalami shifting paradigm. Era Orde Baru dikesankan madzab hisab lebih dominan dibandingkan madzab rukyat karena keputusan pemerintah lebih banyak bersesuaian dengan Muhammadiyah. Namun jika ditelusuri dokumen resmi yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama RI maka ditemukan madzab hisab dan rukyat memperoleh porsi yang sama. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam Keputusan Menteri Agama RI No. 62 Tahun 1971. Salah satu keputusannya menyebutkan “Bagi ahli hisab serta mereka jang mempertjajainja dapat menunaikan ibadah puasa sesuai keyakinannya”.
Keputusan di atas jika dicermati secara seksama maka menunjukkan bahwa pemerintah memberi ruang yang sama bagi pengguna hisab dan rukyat serta berupaya terus menerus mencari titik temu.
Pada era reformasi ketika Menteri Agama dijabat oleh M. Tolchah Hasan sidang isbat diperluas tidak hanya semata-mata menentukan awal Ramadan dan Syawal tetapi juga untuk menentukan awal Zulhijah. Era ini dikesankan madzab rukyat yang lebih dominan dalam sidang isbat karena keputusan pemerintah lebih banyak bersesuaian dengan Nahdlatul Ulama. Upaya untuk mencari titik temu antara madzab hisab dan rukyat terus diupayakan namun belum menyentuh aspek substantif  tetapi lebih bernuansa politis, khususnya pada masa Suryadharma Ali sehingga banyak pihak yang mempertanyakan autentisitas sidang isbat. Saat itu forum sidang isbat cenderung mendeskriminasi dan mengintimidasi kelompok yang terlihat berseberangan dengan suara mayoritas. Forum sidang isbat kurang berprinsip dan cenderung membela salah satu pihak mayoritas. Dari segi kuorum juga belum terpenuhi karena Kementerian Agama, MUI, URAIS, dan semua yang memegang kekuasaan dalam proses sidang isbat adalah invidu dari satu golongan yang sama. Apalagi disiarkan secara langsung dan terbuka sehingga banyak menimbulkan mafsadah bagi upaya penyatuan antara madzab hisab dan rukyat yang telah lama dilakukan. Setelah Suryadharma Ali diganti oleh Lukman Hakim Saifuddin suasana sidang isbat lebih cair dan lebih menyentuh aspek substantif yaitu mencari titik temu hisab dan rukyat dengan menghadirkan kalender Islam pemersatu.
Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan agar sidang isbat sesuai latar belakang kehadirannya maka dalam kasus penentuan awal Syawal 1440 H dan  sebelum terwujudnya kalender Islam unifikatif sidang Isbat dapat dilakukan merujuk pengalaman sidang isbat pertama pada tahun 1962. Dengan kata lain jika posisi hilal dibawah ufuk maka sidang isbat awal Ramadan dan Syawal dapat disatukan dan diputuskan berdasarkan istikmal dan tanpa menunggu hasil obsevasi di Lapangan. Inilah jalan tengah yang harus ditempuh agar semua anak bangsa terwadahi dan dapat saling menghargai. Dengan demikian sidang isbat lebih efektif, efisien, hemat biaya, dan memberi kepastian.

Susiknan Azhari

Bukit Angkasa, 25 Ramadan 1440/30 Mei 2019

Sumber Foto : ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Artikel ini dimuat pada hari Kedaulatan Rakyat