Etos Keilmuan Para Astronom Muslim

07 November 2016

Rentang sejarah peradaban Islam yang sangat panjang meninggalkan khazanah keilmuan luar biasa yang sejatinya dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan keilmuan hari ini, khususnya dalam membangun kemajuan peradaban Islam di era modern. Jejak-jejak intelektual sebagai dimiliki oleh para ilmuwan Muslim silam itu diantaranya adalah nilai-nilai rasionalitas dan etos keilmuan.

Nilai-nilai rasionalitas merupakan modal utama pengembangan keilmuan dalam berbagai bidang, karena dengannya segenap ide, gagasan, dan inovasi dapat dilahirkan. Sementara itu etos keilmuan adalah watak dan karakter yang melandasi nilai-nilai rasionalitas itu. Dalam konteks astronomi, setidaknya ada lima kontribusi besar peradaban Islam di bidang astronomi, yaitu instrumen-instrumen astronomi, observatorium, tabel-tabel astronomi (zij), mikat, dan literatur-literatur. Segenap kontribusi ini dilahirkan oleh karena etos dan nalar saintifik sebagai dimiliki oleh para astronom dan ilmuwan Muslim. Etos-etos itu adalah pencari kebenaran, kejujuran dan orisinalitas, Kosmopolitanisme dan Universalisme, keterbukaan, dan kritisisme.

Pencari Kebenaran. Mengamati langit bagi seorang astronom Muslim merupakan upaya menerjemahkan ayat-ayat Allah di segenap semesta. Dalam beberapa ayat-Nya juga tampak bahwa pengamatan terhadap alam semesta merupakan bagian dari perintah Allah. Semangat al-Qur’an adalah semangat mengungkapkan kebenaran. Semangat ini ditangkap dan diinternalisasikan oleh para astronom Muslim sedemikian rupa sehingga begitu serius mempelajari astronomi dari berbagai aspek dan tradisi lalu mengembangkannya dengan segenap penemuan, dan lantas mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Kejujuran dan Orisinalitas. Tidak diragukan bahwa para astronom Muslim memiliki intensitas yang tinggi dalam menulis karya sebagai hasil pengamatan dan perenungannya terhadap langit. Nilai-nilai yang ditekankan dalam kode etik penulisan para astronom Muslim adalah kejujuran dan orisinalitas. Salah satu rintisan sarjana astronomi Muslim klasik yang diwariskan kepada dunia astronomi sampai hari ini adalah ditumbuhkannya tradisi penyebutan tokoh terdahulu sebagai apresiasi keilmuannya. Sebelum peradaban Islam, belum ada kode etik bahwa seorang astronom yang mengutip harus menyebutkan nama penulis dan sumber yang dikutipnya. Ibn Majdi (w. 850/1446), astronom Muslim asal Mesir, dalam salah satu karyanya “Ghunya al-Fahīm wa ath-Tharīq Ilā Hall at-Taqwīm” (Analisis Komprehensif dan Tata Cara Penguraian Penanggalan) tercatat menukil dan menyebut beberapa tokoh astronomi senior seperti Kusyyār al-Jīlī (w. ± 350/961), Nashiruddin al-Thūsī (w. 672/1272), Ibn Syāthir (w. 777/1375). Materi yang dikutip berupa pembahasan ru’yah al-hilāl. Apa yang dilakukan Ibn Majdi agaknya belum dimiliki oleh sarjana-sarjana astronomi pra Islam. Ptolemeus misalnya tidak merasa berkewajiban untuk menyebutkan sumber-sumber pengamatan dan penelitiannya beserta silang pendapat yang ada diantara tokoh-tokoh yang ia bahas.

Kosmopolitanisme dan Universalisme. Sarjana astronomi Muslim memiliki etos keterbukaan dan kosmopolitan yang dapat menerima berbagai tradisi keilmuan astronomi dari beragam peradaban. Sikap ini sejalan dan merupakan pengejawantahan sabda Nabi Saw “ambillah hikmah itu dari mana saja berasal”. Sikap keterbukaan-kosmopolitan ini pada akhirnya menyebabkan para astronom Muslim mampu mengembangkan sains astronomi dan ikut memberi kontribusi besar bagi peradaban dunia. Hal ini setidaknya dilandasi oleh karena watak peradaban Islam itu sendiri yang tidak statis dan kaku melainkan dinamis sesuai dengan perkembangan zaman.

Keterbukaan. Para ilmuwan muslim terkhusus yang mendalami astronomi tidak canggung melahap manuskrip-manuskrip astronomi dari India, Persia dan Yunani. Itu dilakukan tanpa ada ketakutan akan terlebur dalam paradigma atau cara pandang perdaban-peradaban pra-Islam tersebut. Para astronom Muslim dengan penuh percaya diri membuka diri untuk disapa oleh teks-teks asing yang mungkin saja bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Mereka membaca karya-karya Hindu asal India, Zoroaster asal Persia, paganisme dari Harran (Suriah), Hellenisme asal Iskandariah, ataupun Nasrani asal Romawi. Mereka juga terbiasa bekerja sama dengan sarjana-sarjana Nasrani, Yahudi, dan Hindu dalam menyusun karya-karya ilmiah mereka. Penerjemah ulung Hunain bin Ishaq adalah sarjana beragama Nasrani, ia banyak menrjemahkan karya-karya astronomi dari Yunani. Al-Biruni juga berkolaborasi dengan sarjana-sarjana Hindu selama 13 tahun di India dalam menyusun buku berjudul “Tahqiq Ma li al-Hind Min Maqulah Maqbulah fi al-‘Aql au Mardzulah”, sebuah karya ensiklopedis yang sangat sistematis dan komprehensif tentang sejarah dan sosiologi India.

            Namun yang menarik para astronom Muslim ini justru mereka melakukan proses kreatif terhadap berbagai tradisi keilmuan pra-Islam tersebut, yaitu dengan melakukan sintesis yang melahirkan bangunan ilmu pengetahuan yang benar-benar baru, yaitu astronomi Islam.

Kritisisme. Dalam khazanah intelektual peradaban Islam, tradisi kritik tampaknya merupakan fenomena umum yang berlaku ketika itu. Tak terkecuali, tradisi ini tumbuh subur dikalangan sarjana astronomi Muslim klasik. Fenomena dialog, debat, diskusi, dan saling kritik merupakan hal lazim ketika itu. Ibn Sina (w. 428/1037) dan al-Biruni (w. 440/1048) misalnya, keduanya pernah saling berdebat tentang berbagai hal mulai dari persoalan astronomi, fisika, matematika, sampai filsafat. Al-Biruni mengkritik keras aliran peripatetik dalam banyak segi yang justru didukung kuat oleh Ibn Sina. Al-Biruni juga mengkritik beberapa doktrin fisika peripatetik Aristotelian, misalnya tentang masalah gerak, gravitasi, ruang, dan materi. Namun, pada saat yang sama , dua tokoh besar inipun pernah saling berkorespondensi dalam banyak hal yang mereka sepakati bersama. Hal ini tidak lain menunjukkan kesadaran intelektual yang tinggi. Dalam satu hal keduanya berdebat dan saling mengkritik, namun dalam satu hal lainnya keduanya dapat berdiskusi.

Salah satu bentuk etos kritisisme sarjana Muslim adalah tumbuhnya tradisi revisi suatu terjemahan yang dilakukan lebih dari satu kali. Hal ini dilakukan dalam rangka melahirkan versi terjemahan yang lebih efektif dan autentik. Di sini, semangat kritisime sarjana Muslim berkorelasi erat dengan etos pertanggungjawaban ilmiah guna mengungkap kebenaran sejatinya.[]

Medan, 6 Safar 1438/ 6 November 2016

 

Dr. Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, MA

Kepala Observatorium Ilmu Falak UMSU