Kalender Islam dan Awal Subuh dikaji dalam Konferensi di Brunai

23 Agustus 2017

Pada tanggal 15-17 Agustus 2017 bertepatan dengan tanggal 22-24 Zulkaidah 1438 yang lalu diselenggarakan 14 Th South East Asia Survey Congress bertempat di Bandar Seribegawan Brunai Darussalam. Salah satu tema yang dikaji adalah persoalan Falak Syar’i yang menampilkan lima narasumber yaitu Hj. Julaihi Hj Lamat (Institut Geomatik Brunai Darussalam), Prof. Dr. Susiknan Azhari (Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta-Indonesia), Dr. Firdaus Yahya (Darul Huffadz Learning Singapore), Dr. Hj Kassim Bahali (Akademi Falak Malaysia), dan Hazarry Hj Ali Ahmad (Persatuan Astronomi Brunai Darussalam). Presentasi pertama disampaikan oleh Haji Julaihi bin Haji Lamat dengan judul “Kaidah Imaging untuk Cerapan Hilal berdasarkan CCD”. Menurutnya pada awalnya penentuan awal bulan kamariah, khususnya awal Ramadan dan Syawal melalui rukyat dengan mata telanjang. Namun perkembangan zaman penggunaan teknologi sangat dimungkinkan, seperti penggunaan CCD yang pada saat ini telah digunakan oleh para pemburu hilal (anak bulan). Selanjutnya presentasi disampaikan oleh Prof. Dr. Susiknan Azhari dengan judul “Unifikasi Kalender Islam di Indonesia Masalah dan Solusi”. Dalam uraiannya Prof. Susiknan menjelaskan berbagai jenis kalender Islam yang berkembang di Indonesia yaitu Kalender Muhammadiyah, Almanak PB NU, Taqwim Standar Indonesia, dan Almanak Islam PERSIS. Menurutnya pula berdasarkan hasil kajian menunjukkan setiap kalender memiliki sistem yang berbeda dalam memulai awal bulan kamariah. Untuk menyelesaikan perbedaan tersebut ia menawarkan teori Mutakamilul Hilal sebagai sintesa antara wujudul hilal dan visibilitas hilal sehingga  dapat melaksanakan Idul Fitri secara bersama-sama. Pembahasan berikutnya disampaikan oleh Dr. Hj. Kassim Bahali dengan judul “Waktu Subuh Perlu Penilaian Semula”. Hasil penelitian yang telah dilakukan di berbagai tempat di Malaysia dan di atas pesawat menunjukkan bahwa ketinggian Matahari – 20 tidak sesuai dengan waktu terbit fajar. Oleh karena itu awal waktu Subuh yang berkembang selama ini perlu dirumuskan ulang agar sesuai tuntutan syar’i dan sains. Presentasi terakhir disampaikan oleh Awang Hazarry bin Haji Ali Ahmad dari Persatuan Astronomi Brunei Darussalam dengan judul “Teknik Pengimejan Anak Bulan menggunakan Kamera Digital di Negara Brunei Darussalam”. Hazarry menjelaskan pengalamannya dalam mengamati hilal di Brunai Darussalam. Menurutnya observasi hilal sangat diperlukan dalam menentukan awal bulan kamariah karena hal ini merupakan dasar penetapan di Brunai Darussalam, khususnya awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Baginya pengamatan hilal dengan mata telanjang sangat sulit. Oleh karena itu diperlukan penggunaan teknologi terkini.

Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam.