Mendialogkan Kalender Islam Global dan Neo-Visibilitas Hilal MABIMS

06 Oktober 2016

Hingga Awal Oktober 2016 ada dua peristiwa bersejarah tentang kalender Islam yaitu Konferensi Turki 2016 yang menghasilkan Kalender Islam Global dan Muzakarah MABIMS di Malaysia yang menghasilkan Neo-Visibilitas Hilal MABIMS. Pada sistem Kalender Islam Global seluruh dunia memulai awal bulan kamariah pada hari yang sama dengan kriteria visibilitas hilal. Awal bulan kamariah dimulai apabila pada saat Magrib di mana pun tinggi bulan lebih dari 5 derajat dan elongasi bulan lebih dari 8 derajat. Dengan catatan awal bulan kamariah terjadi apabila kriteria visibilitas hilal telah terjadi di mana pun di seluruh dunia asalkan di New Zealand belum terbit fajar. Selanjutnya pada “Muzakarah Rukyah dan Takwim Islam Negara Anggota MABIMS ke-16 2-4 Agustus 2016 di Kompleks Baitul Hilal Port Dickson Negeri Sembilan Malaysia menghasilkan keputusan Neo-Visibilitas Hilal MABIMS yaitu ketinggian hilal tidak kurang 3 derajat dari ufuk dan jarak lengkung (sudut elongasi) Bulan ke Matahari tidak kurang dari 6,4 derajat.

Memperhatikan isu-isu aktual tersebut Kementerian Agama RI berkepentingan mengkaji secara komprehensip untuk dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan. Pada hari Selasa bertepatan dengan tanggal 4 Oktober 2016 digelar rapat Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama RI di Kantor Kementerian Agama Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin dan dihadiri oleh Dirjen Bimas Islam Machasin, Direktur Urais M. Thambri, Sekretaris Bimas Islam Muhammadiyah Amin, MUI, perwakilan ormas, LAPAN, BMKG, Bosscha, Planetarium, dan para pakar astronomi Islam.

Dalam sambutannya, Menteri Agama Lukman Hakim menyampaikan “Untuk mewujudkan penyatuan kalender Islam perlu dibangun kesamaan pandangan. Pemerintah tidak dalam posisi untuk mengusulkan sesuatu. Saya berharap ini murni hasil Tim Hisab Rukyat, Kemenag berposisi sebagai fasilitator untuk berdiskusi tentang dalil naqli dan aqli dengan tujuan untuk kemaslahatan bersama. Negara harus berperan aktif dalam penyatuan kalender Islam. Kehadiran nsangat diperlukan dalam upaya penyatuan Kalender Islam Internasional. Apapun kriteria yang dipilih maupun sistem yang digunakan jika tidak melibatkan negara yang memiliki kekuatan untuk melakukan komunikasi antar negara maka hasil pertemuan yang dilakukan tid akan bernilai guna”.

Rapat yang langsung dipimpin oleh Dirjen Bmas Islam Machasin diawali dengan laporan tim yang menghadiri Muzakarah di Malaysia. Dalam laporannya tim menyampaikan hasil Muzakarah tersebut akan dibawa ke tingkat MABIMS pada bulan November 2016 yang akan datang untuk disahkan. Selanjutnya pimpinan rapat mempersilahkan kepada semua peserta memberikan pandangan terhadap isu-isu yang telah diagendakan.

Para peserta berpandangan perubahan adalah sebuah keniscayaan dalam merespons perkembangan sains dan teknologi. Meskipun demikian perubahan juga perlu memperhatikan aspek kemaslahatan. Indonesia sebagai negara besar dan mayoritas penduduk beragama Islam memiliki keunikan dan berbeda dengan Malaysia, Singapore, dan Brunai Darussalam. Untuk itu diperlukan kearifan menuju Neo-Visibilitas Hilal MABIMS dalama penentuan awal bulan kamariah. Begitu pula implementasi Kalender Islam Global masih perlu kajian yang mendalam. Sebab sistem yang digunakan berpeluang menimbulkan masalah baru. Contoh kongkret dalam penentuan awal Syawal 1437 yang lalu. Bagi pendukung Kalender Islam Global, awal Syawal 1437 H jatuh pada hari Selasa 5 Juli 2016 karena sudah ada wilayah yang memenuhi kriteria visibiltas hilal. Padahal pada hari Senin 4 Juli 2016 di seluruh wilayah Indonesia posisi hilal masih di bawah ufuk. Tentu saja keadaan seperti ini sulit diterima oleh para pendukung rukyat.

Pandangan lain menerima hasil Muzakarah MABIMS untuk dijadikan kriteria baru dalam menentukan awal bulan kamariah sekaligus dapat diusulkan untuk menjadi kriteria Kalender Islam Global. Kriteria yang diusulkan adalah “awal bulan kamariah dimulai apabila pada saat magrib di wilayah Indonesia ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat, wilayah Indonesia sudah mewakili wilayah Malaysia, Singapore, dan Brunai Darussalam. Dengan Neo-Visibilitas Hilal MABIMS, kriteria Istanbul (58) secara umum akan terpenuhi di wilayah Turki dan Timur Tengah. Dengan demikian diharapkan kehadiran Neo-Visibilitas Hilal MABIMS dapat menjadi titik temua antara pendukung visibilitas hilal dan wujudul hilal.

Bukit Angkasa, 4 Muharam 1438/ 5 Oktober 2016, pukul 21.00 WIB

Susiknan Azhari

Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam