Meneliti Hadis-Hadis Rukyat Dosen IAIN Samarinda Meraih Gelar Doktor

07 Agustus 2017

Perbedaan dalam menentukan awal bulan kamariah, khususnya awal Ramadan dan Syawal salah satu sebabnya adalah pemahaman terhadap hadis-hadis rukyat. Dalam memahami hadis-hadis rukyat sebagian terfokus pada kata “ru’yat”, sebagian yang lain terfokus pada kata “faqduru lahu”. Abdul Majid salah seorang dosen tetap IAIN Samarinda melakukan penelitian dengan judul “Hermeneutika Hadis-Hadis Rukyatul Hilal”. Hasil penelitiannya dipertahankan dalam ujian promosi doktor di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada hari Senin 31 Juli 2017 bertepatan dengan tanggal 7 Zulkaidah 1438. Tim penguji terdiri Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi., M.A., Ph.D (Ketua Sidang/Penguji), Dr. Muh. Nur Ichwan, M.A. (Sekretaris Sidang/Penguji), Prof. Dr. H. Susiknan Azhari, M.A (Promotor/Penguji), Dr. H. Sahiron (Co-Promotor/Penguji), Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq (Penguji Eksternal), Prof. Dr. H. Suryadi, M.A (Penguji), Dr. Ali Imron (Penguji), dan Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A (Penguji). Dalam presentasinya, promovendus menyatakan bahwa hadis-hadis rukyat perlu dikembangkan maknanya agar sesuai tuntutan zaman. Menurutnya pula perkembangan ilmu astronomi yang sangat akurat maka peralihan dari metode rukyat ke hisab falaki (astronomi) lebih baik. Metode ini lebih praktis dan lebih efektif. Peralihan ini dilakukan dengan beberapa alasan. Pertama makna kata rukyat itu sendiri memberi ruang pengembangan makna dari rukyat dengan mata kepala dengan ilmu. Kedua, adanya hadis sahih dari Nabi bahwa umat Islam saat beliau masih hidup tidak menggunakan hisab karena masih ketinggalan dalam tulis-menulis dan berhisab. Ketiga, secara mendasar, hadis merupakan tafsir terhadap al-Qur’an. Adalah sangat wajar apabila sifatnya sangat kontekstual mengingat relevansinya dengan situasi dan kondisi zamannya yang perlu dijaga. Rukyatul Hilal dengan mata kepala merupakan bagian dari fikih yang perumusannya terkait dengan kondisi sosio-historis. Oleh karena itu fikih ini sejatinya elastis, dinamis, dan berkembang bersama dengan masalah yang mengitarinya, bukan statis dan stagnan. Dengan demikian gerakan kontekstualisasi hadis-hadis rukyat  perlu diupayakan sehingga bisa dicari titik temu dalam membangun paradigma baru kalender Islam. Selanjutnya, promovendus menyampaikan kritik terhadap konsep visibilitas hilal yang berkembang di Indonesia yang hilang dari makna asalnya. Dalam praktiknya kriteria Visibilitas Hilal hanya digunakan untuk memandu pelaksanaan rukyatul hilal belum menjadi penentu untuk menentukan awal bulan. Setelah mempertahankan selama dua jam, promovendus dinyatakan lulus dengan predikat Cumlaude dan merupakan doktor ke-565 yang dihasilkan oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam.