Metode Hisab Wujud al-Hilal Pergeseran Argumentasi Normatif Muhammad Wardan menjadi Ideologi Hisab Muhammadiyah

29 Maret 2018

Penelitian  ini  membuktikan  bahwa  penggunaan  metode  hisab  wujudul hilal Muhammad Wardan Diponingrat didasarkan pada pemahaman surat al-Baqarah  2: 185 yakni keberadaan hilal di setiap awal bulan pasti ada, sekalipun sulit untuk dilihat dengan menggunakan metode rukyat. Oleh karena itu, dia mengusulkan penggunaan metode hisab wujud al-hilal   berdasarkan prinsip taysir. Kemudian oleh Muhammadiyah argumen tersebut disempurnakan dengan tambahan

1) Al-Quran : surat Yunus, 10:5, surat al-Isra, 17:12, dan surat Yasin 36: 39-40.

2) Hadis Nabi saw dari Ibnu Umar tentang “faqduru>lah”  dan “umat yang ummiy”, dan

3) Alasan sains dan alasan praktis yaitu metode ini dapat  dijadikan dasar yang akurat  dalam sistem  penanggalan kalender hijriah sehingga dapat memberikan solusi atas kesulitan-kesulitan yang disebabkan oleh penggunaan rukyat.

Penelitian ini juga membuktikan bahwa telah terjadi pergeseran hisab wujud al-hilal dari ranah metodologi   ke   ranah   ideologi   sesuai   dengan   teori   ideologisasinya   Destutt   de   Tracy   yang menyebutkan lima indikator  sebagai berikut:

1) adanya konsep yang jelas dan komprehensip dari metode hisab wujud al- hilal;

2) adanya penataan internal terkait  paham hisab itu sendiri maupun konsolidasi organisasi baik yang berkaitan dengan aspek sosial maupun politik;

3) adanya perjuangan untuk merealisasikan program dengan cara memperhadapkan paham hisab tersebut  dengan paham lain yang ada di luar Muhammadiyah;

4) adanya upaya merekrut  penganut  setia  yang loyal dan mempunyai komitmen dilakukan oleh Muhammadiyah secara masif dan sistematis melalui berbagai kebijakan  organisasi;

5)  adanya  upaya  mobilisasi  seluas  mungkin  kader  dan  masyarakat  untuk menjadi pendukung faham tersebut.

Temuan  ini  semakin  memperkuat  penelitian  sebelumnya  yang  dilakukan  oleh  Susiknan Azhari (Penggunaan Sistem Hisab dan Rukyat di Indonesia Studi tentang Relasi Muhammadiyah dan NU, 2007) yang menyatakan bahwa telah terjadi pergeseran hisab rukyat yang semula hanya metodologi berubah menjadi ideologi.

Selain itu penelitiani ini juga membantah tesis James E. Anderson (Public Policy Making, 2010) yang menyatakan bahwa nilai-nilai organisasi dan ideologi yang dianut   oleh pengambil keputusan sangat mempengaruhi keputusan yang diambil. Afiliasi ormas dan ideologi dari Menteri Agama tidak mempengaruhi  pengambilan  keputusan  dalam  menentukan  puasa  dan  hari  raya.  Pengambilan keputusan lebih dipengaruhi oleh perimbangan kekuatan dan konfigurasi yang melahirkannya. Hal ini sesuai  dengan  tesis  Mahfudz  MD  (Pergulatan  Politik  dan  Hukum  di  Indonesia,  1999)    yang menyatakan  bahwa hukum merupakan produk politik  yang sangat  ditentukan  atau  diwarnai oleh perimbangan kekuatan dan konfigurasi yang melahirkannya, bukan ditentukan oleh nilai-nilai organisasi dan ideologi dari pengambil keputusan.

Sumber  utama  penelitian  ini  adalah  karya-karya  Muhammad Wardan Diponingrat  dalam bentuk buku, dokumen-dokumen resmi yang diterbitkan  oleh Muhammadiyah, dan berbagai artikel lainnya yang membahas tentang diskursus hisab rukyat. Data tersebut dibaca dengan menggunakan pendekatan Usul Fiqh, ilmu falak, sejarah, sosiologi, dan politik.

Peneliti : Maskufa

Sumber Foto : Maskufa