Mewujudkan Kalender Islam

31 Mei 2017

Dalam buku yang berjudul “We Can Do It Again Renaissance of Islamic Science and Technology” yang terbit pada tahun 2017, Mohammad Ilyas salah seorang tokoh astronomi Islam dan dianggap sebagai bapak Kalender Islam Internasional mengingatkan kembali kepada umat Islam tentang pentingnya kehadiran kalender Islam. Ilyas mencoba mendeskripsikan kondisi umat Islam pada masa keemasan dan masa kini. Baginya salah satu problem yang perlu memperoleh perhatian serius adalah persoalan kalender Islam. Sebagaimana diketahui upaya mewujudkan kalender Islam yang dapat diterima semua pihak telah lama dilakukan namun hingga kini masih mengalami kebuntuan.

Pada tanggal 28-30 Mei 2016/ 21-23 Syakban 1437 yang lalu telah diselenggarakan Konferensi Internasional Penyatuan kalender Islam di Istanbul Turki. Salah satu hasilnya adalah memilih kalender Islam global (at-Taqwim al-‘Ahady) untuk dijadikan acuan umat Islam sedunia dalam rangka mengakhiri perbedaan dalam memulai dan mengakhiri Ramadan. Berbagai respons bermunculan dikalangan para pemerhati kalender Islam baik nasional maupun internasional.

Di Indonesia ada sebagian kecil menganggap hasil konferensi Turki tersebut adalah final dan harus dilaksanakan secepatnya tanpa mempertimbangkan aspek kemaslahatan. Baginya jika Indonesia menerima hasil konferensi tersebut akan memiliki beberapa keuntungan yaitu memiliki tawaran dan kepeloporan terhadap dunia Islam untuk mendorong penyatuan kalender Islam dan mempunyai peluang untuk bernegosiasi guna menyatukan jatuhnya hari Arafah pada tahun-tahun tertentu karena kriteria yang digunakan adalah kalender Islam global.

Pandangan kedua menganggap hasil konferensi tersebut dapat diterima sebagai visi bersama untuk mewujudkan kalender Islam yang mapan, sedangkan implementasinya bertahap dengan mempertimbangkan problem yang berkembang di Negara masing-masing. Mardi Ghadban dari Libanon dengan semangat menyampaikan kepada Qamar Uddin dari London perlu melakukan konferensi lanjutan untuk mengkaji hasil konferensi-konferensi sebelumnya.

Pandangan ketiga menanggapi secara negatif hasil konferensi tersebut dan masih mempertanyakan proses yang dilakukan. Bahkan Salman Zafar Shaikh koordinator Hilal Sighting Committee of North America (HSCNA) menganggap metode voting yang dilakukan dalam memilih sistem kalender tidak memiliki landasan syar’i yang kuat dan tidak dicontohkan oleh rasulullah saw. Penolakan hasil konferensi Turki juga disampaikan oleh Sultan Alam dari Pakistan.

Memperhatikan fenomena di atas pandangan kedua tampaknya lebih realistis jika dikaitkan sejarah upaya penyatuan kalender Islam. Pengalaman Malaysia dapat dijadikan renungan bersama. Pada tahun 1986-1991 Malaysia mengadopsi hasil konferensi Istanbul Turki 1978 yang disesuaikan dengan kondisi Malaysia untuk menentukan awal Ramadan dan Syawal. Sementara itu penentuan awal bulan kamariah selain Ramadan dan Syawal menggunakan ijtimak hakiki.

Selama ini kegagalan proses penyatuan kalender Islam disebabkan tidak memiliki visi bersama, strategi, dan tahapan untuk mewujudkannya. Berbagai keputusan telah dihasilkan dari konferensi ke konferensi berikutnya. Tak jarang hasilnya saling bertentangan, seperti hasil konferensi di Libanon pada tanggal 10-12 Rabiul awal 1431/25-26 Februari 2010 dengan hasil konferensi internasional di Mekah pada tanggal 11-13 Februari 2012.

Terlepas pro-kontra terhadap hasil konferensi Turki, Indonesia sebagai negara yang berpenduduk mayoritas muslim perlu berperan aktif. Menteri Agama RI Lukman Hakim Saefuddin ketika menyampaikan keynote speech dalam Seminar Nasional Kalender Islam Global di UHAMKA Jakarta pada tanggal 12 Ramadan 1437/17 Juni 2016 menyatakan “…Proses penyatuan yang sudah panjang jangan dibiarkan terus berjalan. Hasil konferensi Turki perlu ditelaah bersama. Jadikan Indonesia sebagai teladan penyatuan kalender Islam di Dunia”. Untuk itu tahun ini Kementerian Agama RI berencana menyelenggarakan seminar internasional mengkaji hasil konferensi Turki tersebut.

Pernyataan Menteri Agama di atas perlu diapresiasi karena pihak negara ingin berperan aktif dalam penyatuan kalender Islam. Kehadiran negara sangat diperlukan dalam upaya penyatuan kalender Islam internasional. Apapun kriteria yang dipilih maupun sistem yang akan digunakan jika tidak melibatkan negara yang memiliki kekuatan untuk melakukan komunikasi antar negara maka hasil-hasil pertemuan yang dilakukan tidak akan bermakna dan akan mengalami nasib yang sama. Oleh karena itu diperlukan ketulusan dan kerendahan hati para ulama dan pemerintah serta kebesaran jiwanya melakukan musyawarah mufakat.

Wa Allahu A’lam bi as-Sawab.

Susiknan Azhari,

Artikel ini telah dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 23 Mei 2017.

Sumber Foto : Museum Astronomi Islam.