Fenomena Tata Surya & Transit Venus Dalam Khazanah Peradaban Islam

PADA hari Rabu 06 Juni 2012 jam 05:14 s.d. 11:50 WIB dunia astronomi akan dihadapkan pada satu momen astronomi langka yaitu transit planet Venus. Transit planet Venus adalah fenomena perhentian beberapa saat Venus di area piringan matahari. Fenomena ini terjadi disebabkan posisi Venus berada pada satu garis lurus diantara matahari dan bumi dan tampak seperti bintik (piringan) kecil mengitari matahari. Fenomena ini disebut juga gerhana planet Venus. Muhammad Ahmad Sulaiman dalam bukunya “Sibahah Fadha’iyyah fi Afaq ‘Ilm al-Falak” menyebutkan, planet Venus memiliki periode transit di piringan matahari (‘ubur li qarsh asy-syams) meskipun sangat jarang. Sulaiman menyebutkan momen ini diantaranya pernah terjadi tahun 1874 dan 1882. Selanjutnya fenomena ini diprediksi akan terjadi pada tahun 2004 dan 2012 (Sulaiman: 10). Sebagai catatan bahwa buku “Sibahah Fadha’iyyah fi Afaq ‘Ilm al-Falak” ini diterbitkan pertama kali tahun 1999 di Kuwait.
Dalam dunia astronomi, fenomena transit Venus memiliki nilai historis sekaligus fungsi penelitian (sains). Fungsi historis transit Venus diantaranya mengungkap geliat dan khazanah penemuan dan penelitian yang pernah dilakukan manusia di zaman silam. Sementara fungsi sains diantaranya berguna menentukan jarak presisi antar anggota tata surya. Selain itu juga berguna dalam rangka penjelajahan lebih lanjut planet ekstrasurya, bahkan ekspedisi kemungkinan adanya kehidupan di luar planet Bumi.

Sejarah & Terminologi Venus
Venus adalah satu diantara anggota tata surya yang orbitnya dekat dengan bumi. Venus juga memiliki massa dan ukuran yang hampir mirip dengan bumi. Dalam sejarah tercatat penelitian terhadap planet ini pernah dilakukan oleh orang-orang Babilonia. Penelitian yang dilakukan di zaman ini terdokumentasikan diatas sebuah batu yang disebut ‘Lempeng Venus’ (bilathah az-zuhrah) [Ali Abandah, t.t.: 40]. Dalam sejarahnya lagi, Venus merupakan benda angkasa istimewa yang disucikan. Sejak era Babilonia, Yunani dan Romawi Venus dianggap sebagai penjelmaan tuhan (dewa) dan disembah. Bahkan sejak era Yunani – Romawi inilah planet ini dinamakan Venus. Di Jazirah Arab, Venus masih terus disembah dan disucikan, bangsa Arab menyebut planet ini dengan “al-’uzza“. Tercatat kaum Yahudi dan Sabean adalah komunitas yang mempopulerkan penyucian dan penyembahan benda angkasa ini. Salah satu latar belakang kecintaan manusia zaman lampau terhadap planet ini adalah karena Venus memiliki keindahan.
Dalam bahasa Arab Venus disebut “az-zuhrah” atau “az-zahrah” [Mukhtar ash-shihhah: 243]. Komunitas Arab klasik (al-qudama’) juga menamakan Venus dengan ‘al-kaukab ad-durry‘ (bintang bercahaya) karena ia tampak bersinar terang. Penyebutan ‘bintang bercahaya’ (‘al-kaukab ad-durry) ini antara lain disitir dalam QS. 24: 35. Kata ‘kaukab‘ atau ‘kawakib‘ yang saat ini biasa diterjemahkan dengan ‘planet’ dalam tradisi astronomi silam bermakna ‘najm‘ atau ‘nujum’ (bintang). Namun kini terdapat pemilahan makna terhadap dua istilah ini [Regis Morlan, j. I: 26]

Tata Surya Klasik
Dalam hierarki tata surya klasik, benda-benda angkasa planet terbagi pada dua kategori: sayyarah (planet beredar, bergerak) dan tsawabit (planet tetap, diam). Masuk dalam kategori sayyarah (planet beredar, bergerak) adalah: matahari – bulan (disebut an-nayyirain), Saturnus (az-zuhal), Jupiter (al-musytara), Mars (al-marikh), Venus (az-zuhrah), dan Merkurius (‘utharid). Dari 7 planet ini, selain matahari & bulan, disebut planet beredar (mutahayyirah), disebut demikian karena planet-planet ini berbolak balik dalam gerak edarnya. Selain itu, Venus dan Merkurius juga disebut kategori ‘as-sufliyyah’ yaitu planet rendah (planet inferior) [At-Tahanawi: j. II: 1391]. Dalam penelitian modern, ‘planet rendah’ adalah planet yang orbitnya dekat dengan matahari dibanding dari Bumi. Dalam hierarki tata surya klasik ini, bulan (al-qamar) masuk dalam kategori planet, sementara saat ini bulan adalah satelit bumi.
Masuk dalam kategori tsawabit (planet tetap, diam) adalah selain 7 planet yang telah disebutkan. Para peneliti angkasa zaman itu (qudama’) menamakan selain 7 planet ini dengan tsawabit karena posisinya yang tampak tetap (diam) di cakrawala, atau karena para qudama’ ketika itu tidak dapat mendeteksi pergerakannya yang sangat lambat secara presisi [At-Tahanawi, j. II: 1391].
Dalam berbagai literatur turats disebutkan bahwa planet Venus tidak dapat terlihat di cakrawala, ia hanya muncul di dekat matahari disekitar ufuk bagian barat pada sore hari, karena itulah planet ini disebut ‘planet sore’ (kaukab al-masa’). Kenyataannya lagi, pada musim dingin planet ini akan menghilang seiring tenggelamnya matahari selama beberapa jam. Namun ketika memasuki musim panas Venus kembali muncul dari arah Timur sebelum matahari terbit, karena itu planet ini disebut juga ‘planet pagi’ (kaukab ash-shabah atau kaukab ash-shubh) [Ali Abandah, t.t.: 40].

Transit Venus Dalam Khazanah Peradaban Islam
Peradaban astronomi Islam adalah peradaban yang mewariskan segudang penemuan dan penelitian. Bangunan-bangunan observatorium yang pernah ada dan tercatat oleh sejarah menjadi bukti bahwa tradisi pengkajian terhadap alam semesta demikian marak di zaman itu. Al-Qur’an sendiri yang menjadi pedoman setiap muslim selalu menjadi inspirasi, dan pada kenyataannya lagi al-Qur’an mengajarkan dan menganjurkan kepada manusia untuk menelaah fenomena angkasa. Fenomena transit planet Venus (‘ubur kaukab az-zuhrah) adalah satu diantara sekian banyak fenomena angkasa yang menjadi perhatian para astronom di zaman silam. Menurut penuturan Ali Abandah dalam karyanya “al-Falak wa al-Anwafi at-Turats” (Astronomi & Meteorologi dalam Turats), diduga al-Farabi (w. 339/950) telah (pernah) melakukan pengamatan terhadap fenomena transit Venus ini di Kazakhstan tahun 910 M [hal 42]. Bahkan, konon pengamatan transit Venus ini juga pernah dilakukan oleh filsuf sekaligus astronom asal Persia (Iran) Ibn Sina (w. 428/1037).
Sementara itu astronom terkenal Nashiruddin ath-Thusi (w. 672/1274), direktur Observatorium Maraga dalam karya populernya “Kitab at-Tadzkirah fi ‘Ilm al-Hai’ah” (Buku Catatan Tentang Ilmu Astronomi) secara lebih spesifik mengungkapkan, “… inna az-zuhrah ru’iyat fi bu’diha al-’ab’ad wa al-aqrab kasifatan iyyaha ka halah fi shafhatiha” (…sesungguhnya Venus dapat terlihat pada posisi terjauh dan terdekat (dari matahari) dalam keadaan tertutup (oleh matahari) seperti keadaan pada permukaannya) [al-Thusi, 1993: ...]. Pernyataan ath-Thusi ‘kasifan iyyaha‘ (tertutup matahari) dapat dimaknai bahwa planet Venus melintas dipermukaan (piringan) matahari, dimana kini dikenal dengan transit Venus. Sementara ‘ka halah fi shafhatiha‘ (seperti keadaan pada permukaannya) bermakna bahwa Venus muncul ketika transitnya itu seperti tititk-titik di piringan matahari. Dari apa yang diungkapkan ath-Thusi ini menunjukkan bahwa berbagai fenomena angkasa populer dan langka di era modern saat ini sesungguhnya telah dilakukan penelitian dan pengamatan atasnya sejak berabad-abad silam.

Cairo, 04 Rajab 1433/25 Mei 2012

Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar

Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam/ Repro dari Al-Mawsuah al-Falakiyah karya Ibrahim Hilmi al-Ghuri.

Guru Para Tokoh Astronomi Islam Modern

ABDUR RACHIM, H, salah seorang tokoh astronomi Islam, dilahirkan di Panarukan pada tanggal 3 Februari 1935 M/ 1354 H dan meninggal dunia di Yogyakarta pada hari Jum’at tanggal 6 Syawal 1425 H bertepatan dengan tanggal 19 Nopember 2004. Tamat Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada bulan April 1969 M/ Safar 1389 H, sebagai sarjana teladan dan mendapatkan lencana “Widya Wisuda”, dan pada tahun 1982 M/1403 H, mengikuti Studi Purna Sarjana (SPS) dapat menyelesaikannya sebagai peserta teladan. karirnya sebagai pendidik dimulai sejak sebagai mahasiswa tingkat doktoral, dipercaya sebagai asisten H. Saadoe’ddin Djambek dalam mata kuliah ilmu falak mulai tahun 1965 M/1385 H, pada tahun 1972 M/1392 H diangkat sebagai dosen tetap dalam mata kuliah tafsir, sesuai dengan jurusannya. Ustad Abdur Rachim telah melahirkan tokoh-tokoh astronomi Islam modern di negeri ini. Pada tahun yang sama diangkat sebagai ketua Lembaga Hisab dan Ru’yah, dan pada tahun itu juga diangkat sebagai Ketua Jurusan Tafsir Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tahun 1976 M/1396 H diangkat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademis Fakultas Syari’ah IAIN, dan tahun 1981 M/1402 H diserahi tugas sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogayakarta. Disamping itu beliau juga sebagai dosen, yang ikut membina mahasiswa di Fakultas UII, dalam mata kuliah Ilmu Falak dan Ahkamul Qadla. Tugas ini dilakukan sejak tahun 1972 M/1392 H, dan sejak tahun 1974 M/1394 H dipercaya sebagai anggota penyusun Al-Qur’an dan Tafsir. Karirnya memperdalam Ilmu Falak menjadikan beliau diserahi tugas untuk melanjutkan tugas gurunya H. Saadoe’ddin Djambek (setelah meninggal) sebagai Wakil Ketua Badan Hisab Ru’yah Departemen Agama Pusat tahun 1978 M/1399 H, pada tahun itu juga mewakili Pemerintah Indonesia menghadiri Konferensi Islam di Istambul. Selanjutnya pada tahun 1981 M/1402 H sebagai delegasi Indonesia menghadiri Konferensi Islam di Tunis. Kemudian atas kepercayaan Menteri Agama, beliau diutus lagi menghadiri Konferensi Islam Internasional di Aljazair pada tahun 1982 M/1403 H. Guru-guru beliau yang memberi warna bagi kariernya ialah : Prof. Dr.T.M. Hasbi Ash Shiddieqy, Prof. Dr. H. Muhtar Yahya, H. Saadoe’ddin Djambek, Sa’di Thalib dan Saleh Haedarah. Ustad Abdur Rachim merupakan sosok yang berhasil melahirkan kader-kader dan tokoh-tokoh astronomi Islam modern baik di lingkungan Muhammadiyah maupun NU. Sementara itu karya-karya ilmiahnya yang berkaitan dengan ilmu Falak yang telah diterbitkan, antara lain : Mengapa Bilangan Ramadlan 1389 H ditetapkan 30 Hari ? (1969 M/1389 H), Menghitung Permulaan Tahun Hidjrah (1970 M/1390 H), Ufuq Mar’i sebagai Lingkaran Pemisah antara Terbit dan Terbenamnya Benda-benda Langit (1970 M/1390 H), Ilmu Falak (1983 M/1404 H), dan Kalender Internasional.

Sumber : Susiknan Azhari.Ensiklopedi Hisab Rukyat, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008.
Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam

Pembaharu Pemikiran Hisab Indonesia

SAADOE’DDIN DJAMBEK (Bukittinggi, 24 Maret 1911 M/ 1330 H-Jakarta, 22 November 1977 M/11 Zulhijah 1397 H). Seorang guru serta tokoh astronomi Islam, putra ulama besar Syekh Muhammad Djamil Djambek (1860-1947 M/1277-1367 H) dari Minangkabau. Ia memperoleh pendidikan formal pertama di HIS (Hollands Inlandsche School) hingga tamat pada tahun 1924 M/1343 H. Kemudian ia melanjutkan studi ke sekolah pendidikan guru, HIK (Hollands Inlandsche Kweekschool). Setelah tamat dari HIK pada tahun 1927 M/1346 H, ia meneruskannya lagi ke Hogere Kweekschool (HKS), sekolah pendidikan guru atas, di Bandung, Jawa Barat, dan memperoleh ijazah pada tahun 1930 M/1349 H. Selama empat tahun (1930-1934 M/1349-1353 H) ia mengabdikan diri sebagai guru Gouvernements Schakelschool di Perbaungan, Palembang. Setelah menjalani tugasnya sebagai guru di Palembang, ia berusaha melanjutkan pendidikannya, ia mengajukan permohonan untuk dipindahtugaskan ke Jakarta agar dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Di Jakarta ia bekerja sebagai guru Gouvernement HIS nomor 1 selama setahun. Pada tahun 1935 M/1354 H ia memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke Indische Hoofdakte (program diploma pendidikan) di Bandung sampai memperoleh ijazah pada tahun 1937 M/1356 H. Pada tahun yang sama, ia juga memperoleh ijazah bahasa Jerman dan bahasa Perancis. Setelah mengikuti pendidikan di Bandung, ia kembali menjalankan tugas sebagai guru Gouvernement HIS di Simpang Tiga (Sumatra Timur). Sebagai seorang guru, ia tidak pernah berhenti mengembangkan karier di bidang pendidikan. Kariernya terus meningkat, dari guru sekolah dasar sampai menjadi dosen di Perguruan Tinggi dan terakhir menjadi pegawai tinggi di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta. Ia mulai tertarik mempelajari astronomi Islam pada tahun 1929 M/1348 H. Ia belajar astronomi Islam dari Syekh Taher Jalaluddin, yang mengajar di Al-Jami’ah Islamiah Padang tahun 1939 M/1358 H. Pertemuannya dengan Syekh Taher Jalaluddin membekas dalam dirinya dan menjadi awal pembentukan keahliannya di bidang hitung-menghitung penanggalan. Untuk memperdalam pengetahuannya, ia kemudian mengikuti kursus Legere Akte Ilmu Pasti di Yogyakarta pada tahun 1941-1942 M/1360-1361 H serta mengikuti kuliah ilmu pasti alam dan astronomi pada FIPIA (Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam) di Bandung pada tahun 1954-1955 M/1374-1375 H. Keahliannya di bidang ilmu pasti dan ilmu falak dikembangkannya melalui tugas yang dilaksanakannya di beberapa tempat. Pada tahun 1955-1956 M/1375-1376 H menjadi lektor kepala dalam mata kuliah ilmu pasti pada PTPG (Perguruan Tinggi Pendidikan Guru) di Batusangkar, Sumatra Barat. Kemudian ia memberi kuliah ilmu falak sebagai dosen tidak tetap di Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1959-1961 M/1379-1381 H). Sebagai tokoh astronomi Islam, ia banyak menulis buku, seperti : (1) Waktu dan Djadwal Penjelasan Populer Mengenai Perjalanan Bumi, Bulan dan Matahari (diterbitkan oleh Penerbit Tintamas tahun 1952 M/1372 H), (2) Almanak Djamiliyah (diterbitkan oleh Penerbit Tintamas tahun 1953 M/1373 H), (3) Perbandingan Tarich (diterbitkan oleh penerbit Tintamas pada tahun 1968 M/1388 H), (4) Pedoman Waktu Sholat Sepanjang Masa (diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang pada tahun 1974 M/1394 H), (5) Sholat dan Puasa di daerah Kutub (diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang pada tahun 1974 M/1394 H) dan (6) Hisab Awal bulan Qamariyah (diterbitkan oleh Penerbit Tintamas pada tahun 1976 M/1397 H). Karya yang terakhir ini merupakan pergumulan pemikirannya yang akhirnya merupakan ciri khas pemikirannya dalam menentukan awal bulan kamariah.
Wa Allahu a’lam bi as-Sawab

Bukit Angkasa, 15 Rajab 1432/16 Mei 2011, pukul 4.00 AM

Susiknan Azhari

Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam

Observasi Awal Rajab 1433 H

Pada hari Senin tanggal 21 Mei 2012, bertepatan dengan peristiwa Gerhana Matahari tim dari Museum Astronomi Islam melakukan observasi awal bulan Rajab 1433 H. Kegiatan observasi ini sama dengan bulan-bulan sebelumnya yaitu menggunakan “Observatorium Mini-Islamic Astronomy” software dengan markaz (7o 47’ LS dan 110o 22’ BT). Berdasarkan hasil observasi Matahari terbenam terlebih dahulu dibandingkan bulan (moonset after sunset) yaitu pada pukul 17.27 WIB. Pada saat itu bulan masih di atas ufuk di sebelah utara Matahari. Di atas bulan nampak Venus. Tepat pukul 17.47 WIB bulan terbenam. Selanjutnya tim Museum Astronomi Islam menghubungi tim yang melakukan observasi di berbagai pos observasi melaporkan bahwa mereka tidak berhasil melihat hilal awal bulan Rajab 1433 H. Berdasarkan data hisab posisi hilal sudah memenuhi kriteria wujudul hilal maupun visibilitas hilal. Data ini diperkuat hasil observasi di atas. Sehingga usia bulan Jumadil akhir 1433 H adalah 29 hari. Oleh karena itu awal bulan Rajab 1433 H jatuh pada hari Selasa bertepatan dengan tanggal 22 Mei 2012.

Sumber : Admin Museum Astronomi Islam.
Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam

Suara Pengunjung

Ini bagus sekali Prof. Susiknan, saya akan menjadi pengunjung setia situs ini. Mudah-mudahan saya juga bisa berkontribusi

AKHMAD SYAIKHU, dosen STAIN Banjarmasin

Mantap pak Susiknan, semoga banyak manfaatnya bagi umat.

AFIFI FAUZI ABBAS, dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Saya rasa dengan keberadaan website Museum Astronomi Islam bisa membantu mahasiswa pecinta astronomi Islam (falak) khususnya dan para ahli astronomi Islam dapat saling berbagi ilmu pengetahuan serta temuan-temuan baru tentang astronomi Islam. Setelah kami lihat isi website tersebut kami dapat memperoleh pengetahuan yang belum kami dapatkan sebelumnya. Semoga museum ini bisa terealisasikan. Amin.

LUQMAN HAQIQI, Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Selamat. Saya sudah berkunjung. Semoga informasi di dalamnya terus bertambah dan memperkaya khazanah keilmuan kita.

THOMAS DJAMALUDDIN, Peneliti LAPAN Bandung

Prof, happy to hear about this project, Jazakum llah khayran jaa’ zaa

QAMARDEEN YASIN, Anggota Islamic Crescent’s Observation Project

Setiap usaha dan niat baik dalam bidang keilmuan tentunya akan mendapatkan reaksi positif dari civitas akademik. Begitu juga kehadiran website museum astronomi ini, yang diharapkan juga sebagai salah satu sumber keilmuan terutama dalam bidang astronomi Islam. Hadirnya website ini adalah sebuah langkah maju dan pastilah sangat membantu bagi para civitas akademik yang menggeluti bidang astronomi Islam. Harapan selanjutnya agar museum astronomi ini bisa muncul di dunia nyata, dalam bentuk museum yang sebenarnya tentunya dukungan dan do’a akan senantiasa mengiringi. Amin.

AHMAD FATHONI, Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Moga lebh besar manfaatnya pak prof.

MASLAHUL FALAH, Pengurus Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam situs ini “www.museumastronomi.com”, dalam pikiran saya terlintas bahwa isi dari pada situs ini adalah semacam peralatan astronomi kuno/antik yang ditampilkan pada situs ini. Akan tetapi pada kenyataannya,isi dari situs ini lebih condong ke arah sebuah karya. Hanya saja ada beberapa icon yang mungkin sesuai dengan apa yang terlintas dalam benak saya. Dan pada dasarnya, semua icon yang termuat dalam situs ini sudah ditampilkan di beranda situs ini sendiri tanpa harus mengeklik satu-persatu nama icon tersebut.Saat kita mengeklik salah satu icon yang terdapat di beranda situs ini, yang terbuka masih sama dari yang ditampilkan di beranda.(sifatnya hanya memperbesar gambar saja)namun,ada beberapa yang menguraikan lebih lanjut. Akan tetapi,tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pembuat situs ini, saya memberikan apresiasi atas apa yang telah dipersembahkan kepada pengunjung.Terima kasih

DENI WAHYUDIN, Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Mungkin baik dibuat ruang joint facebook atau twetter biar mendunia
jadi semua org bisa joint atau like di museuum yang sangat cantik ini.

AFI ADI, Mahasiswa Program Doktor Universiti Malaya Kuala Lumpur Malaysia.

Senang bisa berkunjung kemari…
Semoga koleksinya semakin banyak dan semakin bisa dinikmati.
Sukses Prof. Dr. H. Susiknan Azhari. Mabruk

SUHARDIMAN, Mahasiswa PPs. Ilmu Falak IAIN Walisongo Semarang.

Sebuah upaya yang sangat mulia, berharga serta penting, perlu diperkaya lagi dengan uraian sejarah perkembagan ilmu astronomi Islam disertai dengan gambar, mulai dari yang paling sederhana. Mungkin bisa dimulai dari yang lokal (dari daerah di Indonesia).
Selamat ustad, semoga semakin berkembang dan lebih banyak bermanfaat.

DR. MAHARSI, Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Tampilan dan muatannya membanggakan, dan sy sangat yakin isinya menakjubkan. Selamat Prof!

DR. H. ASADURRAMAN, Wakil Ketua Pengadilan Agama Cikarang.

Sumber : Admin Museum Astronomi Islam.
Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam