Penggagas Kalender Islam Terpadu

Jamal Eddine Abderrazik, mantan Direktur Institut Pos dan Telekomunikasi Maroko dan kini menjadi Wakil Ketua Asosiasi Astronom Maroko (Association Marocaine d’Astronomie/AMAS). Ia adalah salah seorang tokoh penggagas Kalender Islam Terpadu yang berasal dari Maroko. Ia berambisi untuk menyatukan seluruh dunia dalam satu tanggal untuk satu hari. Hal ini berangkat dari keprihatinan atas kenyataan bahwa dalam dunia Islam sering terjadi satu tanggal meliputi beberapa hari seperti tanggal 1 Syawal 1428 H yang jatuh pada empat hari berlainan, sejak hari Kamis, Jumat, Sabtu hingga Ahad di berbagai belahan bumi. Sebaliknya hari Jumat 12 Oktober 2007 diberi empat tanggal berbeda di berbagai tempat: 2 Syawal, 1 Syawal, 30 Ramadan, dan 29 Ramadan. Prof. Dr. Idris Ibn Sari, Ketua Asosiasi Astronom Maroko, menyatakan bahwa konsep kalender Jamal Eddin merupakan kontribusi pemikir muslim dari bagian dunia Islam. Konsep Kalender Islam Terpadu Jamal Eddin telah disampaikan dalam berbagai pertemuan internasional, terakhir pada Muktamar II Falak di Abu Dhabi pada tahun 2010/1431. Bagi kalangan tertentu gagasan Jamal sangat ideal, tapi melihat peta politik negara-negara Islam nampaknya gagasan ini masih cukup memerlukan waktu yang panjang. Apalagi hingga kini Organisasi Konferensi Islam masih berpegang pada rukyat dalam menentukan awal Ramadan dan Syawal. Karya tulisnya yang monumental adalah At-Taqwim al-Qamari al-Islamy al-Muwahhad.

Bukit Angkasa, 9 Syakban 1433/29 Juni 2012, pukul 03.30 WIB


Susiknan Azhari

Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam

Penggagas Kalender Islam Internasional

Mohammad Ilyas, Prof. Dr., B.Sc., M.Sc., Ph.D.,F.R.A.S., F.R.Met.S. : Salah seorang penggagas Kalender Islam Internasional, dilahirkan di India dan kini menetap di Malaysia sebagai guru besar tamu Universiti Malaysia Perlis. Sebelumnya ia adalah guru besar Sains dan Atmosfira di Universiti Sains Malaysia. Ia juga merupakan salah seorang penggagas dan konsultan ahli berdirinya Pusat Falak Sheikh Tahir di Pulau Pinang. Mohammad Ilyas telah banyak memberi sumbangan di bidang pengembangan astronomi Islam, khususnya tentang Kalender Islam. Ia menggagas konsep “garis qamari antar bangsa” atau biasa diistilahkan International Lunar Date Line (ILDL). Menurut Baharrudin Zainal dari segi kajian astronomi, khususnya berkaitan dengan teori visibiltas hilal, Ilyas adalah satu-satunya ilmuwan muslim yang berada pada tahap yang sama dengan McNally (London), Le Roy Dogget (Washington), Bradley E. Schaefer (NASA), dan Bruin. Bagi Ilyas persoalan Kalender Islam tidak semata-mata persoalan sains, tapi perlu melibatkan kekuatan politik. Ilyas (1997) mengatakan “…..dunia Islam memerlukan seorang Julian untuk menyatukan takwimnya…..”. Ilyas merupakan tokoh yang produktif memperkenalkan ide-idenya melalui berbagai buku dan jurnal. Hasil pembacaan penulis, Ilyas telah menghasilkan 11 judul buku dan 150 artikel yang dimuat diberbagai jurnal baik nasional maupun internasional. Karya dimaksud diantaranya A Modern Guide to Astronomical Calculations of Islamic Calendar, Times & Qibla yang terbit pertama kali pada tahun 1984 M/1405 H oleh Berita Publishing Kuala Lumpur dan dicetak ulang oleh Washington DC pada tahun 1992 M/1413 H, pada tahun 2008/1429 karya ini juga telah diterbitkan dalam bahasa Arab dan dicetak di Saudi Arabia, International Islamic Calendar for The Asia-Pacific Region, 1411-1415, Astronomy of Islamic Calendar, Calendar in Islamic Civilization Modern Issues, Islamic Astronomy and Science Development: Glorious Past, Challenging Future, dan Towards A Unified World Islamic Calendar.

Bukit Angkasa, 6 Syakban 1433/ 26 Juni 2012, pukul 03.30.WIB

Susiknan Azhari

Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam

Perancang “Almanak Menara Kudus”

Turoihan Ajhuri Asy-Syarofi, K.H : Salah seorang tokoh astronomi Islam. Pernah nyantri di pesantren K.H. Abdul Djalil Hamid di Kudus. Ia dilahirkan di Kudus pada tanggal 15 Maret 1915 M/1334 H dan meninggal dunia pada hari Jum’at, 20 Agustus 1999 M bertepatan dengan 8 Rabiul Akhir 1420 H. Yi Tur demikian sapaan akrabya, tercatat sebagai salah satu keturunan ke-16 Sunan Kudus, salah satu dari walisongo, penyebar Islam di tanah Jawa. Ketekunan Yi Tur terhadap ilmu falak muncul sejak kecil hingga dewasa. Menurut informasi dari beberapa ulama di Kudus, Yi Tur saat masih muda tergolong anak cerdas. Terbukti sejak berusia 15 tahun ia sudah mampu mengajar di Madrasah Tasfiqut Tulab Salafiyah (SFS) tingkat atas, Kudus. Reputasinya sebagai pakar ilmu falak sudah terdengar sejak zaman Jepang. Ia seringkali diminta menghitung jatuhnya hari awal dan akhir bulan Ramadan. Maka Turoihan muda itu terdorong untuk menyusun almanak 1945 M/1364 H yang kemudian dicetak Penerbit Menara Kudus. Sejak itulah kalender buatan kiai yang belajar ilmu falak secara otodidak itu disebut dengan Almanak Menara Kudus (AMK). Pada tahun 1951 M1371 H penanggalan hasil karyanya telah menjadi rujukan bagi sebagian besar warga NU di seluruh Indonesia. Melalui karya-karyanya, Yi Tur memberikan kontribusi positif kepada NU dan Pemerintah, khususnya dalam bidang penanggalan. Nama Yi Tur semakin dikenal masyarakat secara nasional terutama bila mendekati bulan puasa, menentukan tanggal 1 Syawal dan Idul Adha. Almanak produk Menara Kudus yang menjadi karya monumental Yi Tur pertama kali diterbitkan oleh Percetakan Masykuri Kudus pada tahun 1942 M/1361 H dan kemudian, sejak 1950 M/1370 H hingga kini, diterbitkan oleh Percetakan Kitab Menara Kudus.

Bukit Angkasa, 1 Syakban 1433 H/21 Juni 2012 M, pukul 16.00 WIB

Susiknan Azhari

Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam

Observasi Awal Syakban 1433 H

Pada hari Selasa tanggal 19 Juni 2012, bertepatan dengan demam “Piala Euro 2012” tim dari Museum Astronomi Islam melakukan observasi awal bulan Syakban 1433 H. Kegiatan observasi ini sama dengan bulan-bulan sebelumnya yaitu menggunakan “Observatorium Mini-Islamic Astronomy” software dengan markaz (7o 47’ LS dan 110o 22’ BT). Berdasarkan hasil observasi bulan terbenam terlebih dahulu dibandingkan bulan (moonset before sunset) yaitu pada pukul 17.18 WIB. Tepat pukul 17.30 WIB matahari terbenam. Pada saat itu nampak Merkurius di atas sebelah utara Matahari. Selanjutnya tim Museum Astronomi Islam menghubungi tim yang melakukan observasi di berbagai pos observasi melaporkan bahwa mereka tidak berhasil melihat hilal awal bulan Syakban 1433 H. Berdasarkan data hisab posisi hilal tidak memenuhi kriteria wujudul hilal maupun visibilitas hilal. Data ini diperkuat hasil observasi di atas. Sehingga usia bulan Rajab 1433 H digenapkan (istikmal) 30 hari. Oleh karena itu awal bulan Syakban 1433 H jatuh pada hari Kamis bertepatan dengan tanggal 21 Juni 2012.

Sumber : Admin Museum Astronomi Islam.
Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam