Perjanjian Hudaibiyah dan Penyatuan Kalender Islam

DALAM “Hayatu Muhammad” karya Muhammad Husain Haekal diceritakan bahwa kaum muslimin setelah enam tahun berada di Madinah mereka rindu ingin berziarah ke Ka’bah dan ingin menunaikan ibadah haji dan umrah. Namun keinginan tersebut dihalangi kaum Quraish Mekah. Karena itu kaum Quraish mengirim pasukan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid dan Ikrima bin Abi Jahl untuk menghadang kaum muslimin memasuki Mekah yang hendak melakukan haji. Jumlah kaum muslimin yang berangkat ketika itu sebanyak 1400 orang.
Untuk menghindari terjadinya peperangan dilakukan negosiasi beberapa kali. Terakhir pihak Quraisy mengutus Suhail bin Amr. Dalam pertemuan tersebut Suhail membacakan syarat-syarat perjanjian secara panjang lebar sebagaimana diamanatkan pihak Quraisy. Akhirnya isi perjanjian tersebut disepakati kedua belah pihak dan Rasulullah memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk menuliskan isi perjanjian tersebut. Kemudian Ali bin Abi Thalib menuliskan “Bismillahirrahmanirrahim, inilah yang telah disetujui oleh Muhammad Rasulullah dan Suhail bin Amr”. Tiba-tiba Suhail interupsi. Stop kata Suhail : “Seandainya aku yakin dia Rasulullah maka aku akan mengikutinya. Karena aku tidak yakin maka tolong hilangkan kata “Rasulullah”. Dengan tenang dan tersenyum Rasulullah mendengarkan secara seksama permintaan Suhail. Lalu beliau memanggil dan memerintahkan Ali bin Abi Thalib agar menghilangkan kata “Rasulullah” di dalam isi perjanjian tersebut. Namun ternyata, Ali bin Abi Thalib menolak dan mengatakan : “Karena aku yakin bahwa engkau Rasulullah maka tidak akan aku hapus kata “Rasulullah” tersebut. Selanjutnya Rasulullah dengan senyum memanggil Ali bin Abi Thalib. Wahai Ali mana tulisan tersebut, kemudian Ali menunjukkan kepada Rasulullah isi perjanjian tersebut. Akhirnya Rasulullah mengangkat tangannya dan menghapuskan kata “Rasulullah” yang diinginkan oleh Suhail. Demi perdamaian dan persatuan Rasulullah rela menghilangkan kata “Rasulullah”. Peristiwa ini mengingatkan bangsa Indonesia pada “Piagam Jakarta”. Kisah ini menunjukkan bahwa Rasulullah dalam menghadapi persoalan-persoalan umat senantiasa mencari solusi yang substantif dan rela berkorban untuk kemaslahatan bersama.
Kaitannya dengan penyatuan kalender Islam peristiwa perjanjian Hudaibiyah tersebut dapat dijadikan inspirasi bagi para pihak terkait. Pemerintah dan ormas-ormas Islam harus senantiasa berusaha mencari titik temu, siap berkorban, dan tidak harus merasa menang-kalah demi tercapainya kebersamaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semoga semangat maulid Nabi Muhammad saw yang telah diperingati semakin memperkuat terwujudnya kalender Islam yang dapat diterima semua pihak.
Wa Allahu A’lam bi as-Sawab.

Bukit Angkasa, 18 Rabiul awal 1434/30 Januari 2013, pukul 03.00 WIB

Susiknan Azhari

Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam

Pendiri “Persatuan Falak Syarie Malaysia”

Mohhd. Khair bin Hj. Mohd Taib : Ahli Astronomi Islam, dilahirkan di Alor Setar, Kedah Malaysia pada tanggal 23 September 1922 M/1341 H. Memperoleh pendidikan awal ilmu astronomi Islam secara tradisional dengan menggunakan alat rubu’ mujayyab pada tahun 1936 M/1355 H di Madrasah al-Islamiyyah, Limbon Kapal, Alor Setar Malaysia dibawah pimpinan almarhum Syekh Wan Sulaiman (Syekh al-Islam Negeri Kedah). Pada tahun 1941 M/1360 H memperoleh bimbingan tentang astronomi Islam dari Syekh Thaher Jalaluddin al-Azhari di Kuala Kangsar-Perak dengan menggunakan kaidah matematika modern. Beliau merupakan salah seorang penggagas berdirinya Persatuan Falak Syarie Malaysia (7 Oktober 1983). Berdirinya perkumpulan ini dimaksudkan untuk mengumpulkan semua pakar dan peminat ilmu astronomi Islam dan wahana bertukar pikiran. Dalam perkembangannya Persatuan Falak Syar’i Malaysia mendirikan portal tentang astronomi Islam. Portal ini diresmikan pada saat seminar astronomi Islam dengan tema “Ilmu Falak Menyongsong Zaman, Menjana Tamadun” pada tanggal 14 Juli 2007 di Kampus Universiti Tenaga Nasional (UNITEN), Bangi, Selangor, Malaysia. Kehadiran portal ini juga sangat membantu mempromosikan isu-isu baru seputar astronomi Islam. Karya Mohd. Khair yang berkaitan dengan astronomi Islam adalah Takwim Istilah (Hijrah Masihi) 1401-1500 H/1980-2077 M, Takwim Hijriah Khairiah, Taqwim Syamsi dan Qamari, dan Anak Bulan Ramadhan tetap ada di kaki langit walaupun berlaku ghaim.

Bukit Angkasa, 19 Safar 1434/2 Januari 2013, pukul 22.00 WIB

Susiknan Azhari

Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam