Muktamar Turki 2013

Pada tanggal 18-19 Februari 2013/8-9 Rabiul akhir 1434 diadakan “Program of Preparatory Meeting for International Crescent Observation” di Istanbul Turki. Perbedaan dalam menentukan awal bulan kamariah (Ramadan, Syawal, dan Zulhijah) tidak hanya terjadi di Indonesia. Berbagai umat Islam dibelahan dunia juga mengalami hal yang sama. Oleh karena itu perlu dirumuskan konsep kalender Islam yang bisa diterima semua pihak. Inilah salah satu yang menjadi latar belakang diadakan konferensi. Kegiatan ini dihadiri para Menteri Agama, ulama, dan ilmuwan. Delegasi Indonesia dipimpin Menteri Agama RI Drs. H. Suryadharma Ali, M.Si, yang terdiri Prof. Dr. H. Abdul Jamil, M.A, Dr. H. Muchtar Ali, M.Hum, Prof. Dr. H. Susiknan Azhari, Dr. H. Moedji Raharto, K.H. Abdul Hafidz Usman, dan Drs. H. Sirril Wafa, M.A. Pertemuan ini sesungguhnya untuk menggali permasalahan-permasalahan yang dihadapi umat Islam dari berbagai negara seputar hisab dan rukyat untuk diagendakan dan ditindaklanjuti pada konferensi selanjutnya. Salah satu perwakilan umat Islam di Eropa menyatakan: “kita di Eropa hidup dalam suasana tertib karena itu kami berharap umat Islam memiliki kalender yang tertib agar tidak terjadi perbedaan dalam menentukan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.” Perbedaan awal Ramadan dan Syawal sangat menyulitkan umat Islam di Eropa mendapatkan izin dari pihak perusahaan. Dengan demikian kehadiran kalender Islam yang terpadu sangat dinantikan untuk menjawab permasalahan yang dihadapi umat Islam sedunia.

Bukit Angkasa, 12 Rabiul akhir 1434/21 Februari 2013, pukul 03.00 WIB

Susiknan Azhari

Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam

Awal Bulan Rabiul Akhir 1434 di Dunia Islam

Berbagai media massa melaporkan bahwa awal bulan Rabiul akhir 1434 terjadi perbedaan. Mayoritas harian yang terbit di kawasan Timur Tengah menyebutkan bahwa awal bulan Rabiul akhir 1434 H jatuh pada hari Senin 11 Februari 2013. Hal ini sebagaimana dimuat di media massa Timur Tengah yang terbit pada hari Senin bertepatan dengan tanggal 11 Februari 2013, seperti Al-Ahram (Mesir), al-Madinah (Saudi Arabia), al-Sharq (Qatar), al-Bayan (Uni Emirat Arab), dan al-Arab al-Yaum (Yordania). Berdasarkan data hisab di Abu Dhabi ijtimak terjadi pada hari Ahad, 10 Februari 2013. Matahari terbenam (sunset) pada pukul 18.16 LT dan bulan terbenam (moonset) pada pukul 18.32 LT. Ketinggian hilal = +2 derajat 06 menit 49 detik. Jika menggunakan teori visibilitas hilal Odeh maka hilal tidak mungkin terlihat. Namun dalam prakteknya dilaporkan hilal terlihat di Abu Dhabi. Sementara itu di Qatar data hisab menunjukkan ijtimak terjadi pada hari Ahad 10 Februari 2013 pukul 09.59 LT. Matahari terbenam (sunset) pada pukul 17.26 LT dan bulan terbenam (moonset) pada pukul 17.42 LT. Ketinggian hilal = +2 derajat 27 menit 53 detik. Jika menggunakan teori visibilitas hilal Odeh maka hilal tidak mungkin terlihat. Qamar Uddin anggota Islamic Cresents’ Observation Project (ICOP) dari UK yang melakukan observasi di Doha melaporkan hilal tidak terlihat. Namun dalam kalender yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat awal Rabiul akhir 1434 jatuh pada hari Senin 11 Februari 2013. Di kawasan ASEAN mayoritas media menyatakatan bahwa awal bulan Rabiul akhir 1434 jatuh pada hari Selasa 12 Februari 2013. Hal ini sebagaimana dimuat di harian UTUSAN (Malaysia), Berita Harian (Singapura), dan Republika (Indonesia). Pada kalender Muhammadiyah dinyatakan ijtimak terjadi pada hari Ahad 10 Februari 2013 pukul 14 : 21 : 32 WIB. Tinggi hilal (di Yogyakarta) = -01o 56’ 15’’ (hilal belum wujud). Oleh karena itu awal Rabiul akhir 1434 H jatuh pada hari Selasa, 12 Februari 2013 M. Data ini didukung hasil para pengamat hilal yang melaporkan tidak berhasil melihat hilal di kawasan Indonesia.

Bukit Angkasa, 2 Rabiul akhir 1434/13 Februari 2013, pukul 03.00 WIB

Susiknan Azhari

Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam

Berjihad Mewujudkan “Kalender Islam”

Moedji Raharto, Dr. H. : Seorang astronom yang menaruh perhatian pada Islamic Calendar, lahir di desa Ponggok, Blitar, Jawa Timur pada hari Senin, 8 November 1954 M/13 Rabi’ul akhir 1374 H. Putra pertama dari pasangan Moekadji dan Moetingah. Mengikuti pendidikan Sekolah dasar di SD GIKI Diponegoro Surabaya, tahun 1960-1966 M/1380-1386 H. Kemudian melanjutkan di SMPN X Surabaya (1966-1969 M/1386-1389 H), lalu SMAN 3 Surabaya (1969-1972 M/1389-1392 H). Pendidikan Tinggi diperoleh di Departemen Astronomi FMIPA ITB, tahun 1974-1980 M/1394-1401 H. Kemudian bekerja sebagai dosen di Departemen Astronomi FMIPA ITB sejak tahun 1981 M/1402 H sampai sekarang. Pada tahun 1981 M/1402 H menikah dengan Siti Yuhamah dan dikaruniai dua orang putra Maulida Riza dan Arman Hakim. Pengalaman menjadi peneliti tamu di Observatorium Kiso-Universitas Tokyo, Jepang tahun 1982-1983 M/1403-1404 H, dan menjadi peneliti tamu di Sterenwacht-Leiden, Universitas Leiden-Belanda tahun 1984-1986 M/1405-1407 H. Gelar doktor diperoleh melalui program S3 RONPAKU di Universitas Tokyo, Jepang 1994-1997 M/1415-1418 H, dengan judul Disertasi : Study of Galactic Structure Based on M-Type Stars. Beberapa pengalaman yang terkait dengan Islamic Calendar adalah : anggota International Islamic Calendar Programme, anggota MUKER Depag RI 1986 M/1407 H hingga sekarang. Menurutnya untuk mewujudkan Kalender Islam yang dapat diterima semua pihak pemerintah perlu berperan aktif. Baginya Kalender Islam tidak akan terwujud jika kaum muslimin tidak mau berjihad mewujudkannya. Berbagai karya tulis yang terkait dengan kalender Islam, seperti : Posisi dan Visibilitas Hilal Penentu 1 Ramadhan dan 1 Syawal 1415 H, Sumber Keragaman Penanggalan Islam, Idul Fitri 1415 H dan Ilmu Astronomi, Menertibkan Kalender Islam Internasional, Dibalik Persoalan Awal Bulan Islam, dan Realitas Visibilitas Hilal.

Bukit Angkasa, 21 Rabiul awal 1434/2 Februari 2013, pukul 03.00 WIB

Sumber : Susiknan Azhari, Ensiklopedi Hisab Rukyat, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008.
Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam dari Majalah Gontor edisi 08 Tahun X Muharram-Shafar 1434/ Desember 2012.