FAKTA membuktikan, karya tulis di bidang astronomi yang dihasilkan astronom-astronom muslim abad pertengahan merupakan warisan yang tak ternilai harganya. Karya-karya tulis astronomi dengan segala corak yang terbilang melimpah ini hingga kini masih dapat ditelaah dan saksikan di segenap perpustakaan dunia. Salah satu corak tradisi penulisan karya astronomi era peradaban Islam adalah karya berbentuk tabel, yang dikenal dengan Zij. Sumber-sumber Arab menyebutkan kata Zij berakar dari bahasa dan budaya Persia. Dalam bahasa Arab Zij disebut “az-zaij” atau “al-azyāj” yang berarti tabel-tabel astronomi (astronomical tables). Zij merupakan karya populer pada abad pertengahan peradaban Islam yang teradaptasi dari tradisi astronomi pra Islam (khususnya Persia, India, Yunani).
Secara sederhana Zij adalah tabel-tabel yang memuat data astronomi hasil observasi benda-benda langit. Ibn Khaldūn (w. 808/1405) dalam “Muqaddimah” mendeskripsikan Zij sebagai kreasi perhitungan numerik terhadap benda-benda langit pada orbitnya berupa gerak, posisi, kecepatan, kelambanan, istiqāmah, rujū’ dan lain-lain pada waktu-waktu ia diperhitungkan. Perhitungan itu sendiri dilakukan sesuai kaidah-kaidah dalam astronomi dan tertera dalam catatan-catatan (buku-buku) astronomi. Lebih lanjut Ibn Khaldūn menyatakan Zij merupakan bagian (cabang) dari ilmu astronomi. Zij sebagai bagian integral astronomi juga dikemukakan Al-Akfani (w. 749/1348) dalam karyanya “Irsyād al-Qāṣid Ilā Asnā al-Maqāṣid”. Menurutnya, Zij merupakan satu dari lima cabang astronomi: (1) ilmu tentang Zij atau penanggalan, (2) ilmu waktu, (3) ilmu tata cara observasi, (4) ilmu tentang alat-alat astronomi, dan (5) ilmu tentang alat-alat bayangan suatu benda.
E.S. Kennedy (seorang peneliti astronomi asal Amerika Serikat) dalam karyanya “A Survey of Islamic Astronomical Tables” dengan baik menjelaskan kontribusi Zij sepanjang peradaban Islam, ia juga mendeskripsikan beberapa Zij penting dalam sejarah peradaban Islam. Beberapa Zij populer yang masih dan pernah eksis dalam peradaban Islam antara lain:
1. Zij al-Hākimi al-Kabīr : Ibn Yunus (w. 399/1009)
2. Zij Ilkhāni : Ulugh Bek (w. 853/1449)
3. Zij al-Mumtahin : Yahyā bin Abi Maṣūr (w. 320/854)
4. Zij as-Sābi’ : Jabir al-Battāni (w. 317/929)
5. Zij Ibn asy-Syāṭir : Ibn Syāṭir (w. 777/1375)
6. “ad-Durr al-Yatīm fī Sinā’ah at-Taqwīm” : Ibn Majdi (w. 850/1447), dan lain-lain
Dalam praktiknya, angka-angka numerik benda-benda langit dalam bentuk Zij ini dihasilkan melalui sejumlah observasi berkelanjutan yang dilakukan oleh para pengkaji dan pengamat langit (baca: astronom). Observasi itu sendiri umumnya dilakukan di sebuah observatorium resmi yang difasilitasi oleh penguasa (negara) dimana tersedia sarana (alat-alat) observasi yang terbilang canggih di zamannya. Selain itu, pengamatan dan pencatatan terhadap gerak dan posisi benda-benda langit ini juga dilakukan tanpa menggunakan alat-alat tertentu, namun hanya berdasarkan observasi indrawi. Pengamatan dan pencatatan numerik ini juga dilakukan oleh pengamat-pengamat independen (pribadi) –yang tetap terdokumentasi dan mengikuti aturan yang ada– seperti dilakuakn Ibn Majdi dalam Zij-nya yang bertitel “ad-Durr al-Yatīm fī Sinā’ah at-Taqwīm”.
Data-data yang terdokumentasi dalam sebuah Zij umumnya adalah data gerak dan posisi benda-benda langit tertentu sesuai keinginan pembuatnya. Namun benda-benda langit yang umum didokumentasikan adalah Saturnus, Jupiter, Mars, Venus dan Merkurius, disampig Bulan dan Matahari (an-nayyīrain). Data-data benda langit ini tersusun dalam standar jam, derajat, menit dan detik yang ditulis secara teratur dan berurutan. Data-data itu diperhitungkan dalam gerak harian, bulanan dan tahunan. Dan untuk menggambarkan pencatatan dan pengamatan itu umumnya para pembuat Zij –yang secara otomatis seorang astronom– menggunakan istilah-istilah tertentu, seperti “al-khaṣṣah” yaitu jarak busur sepanjang ekliptika sampai titik Aries, “al-wasaṭ” yaitu busur sepanjang ekliptika dari bulan hingga Aries, “al-markaz” yaitu busur sepanjang ekliptika dari matahari sampai Aries, aphelion (al-auj) yaitu titik terjauh suatu benda langit dari matahari, perihelion (al-hadhidh) yaitu titik terdekat suatu benda langit dari matahari (kebalikan aphelion), dan lain-lain.
Dalam kenyataannya, urutan dan angka-angka seperti tertera dalam sebuah Zij berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Ini karena tiap-tiap Zij didasarkan pada posisi geografis suatu wilayah tempat dilakukan pencatatan dan pengamatan, disamping waktu dan standar pengamatan yang berbeda. Oleh karena itu, salah satu karakteristik sebuah Zij adalah senantiasa mengalami perubahan sesuai data-data terbaru.
Arti penting tabel-tabel astronomi (Zij) bagi pengamat dan pencatat gerak dan posisi langit zaman dahulu adalah sebagai data verifikasi sekaligus perbandingan observasi antara satu generasi Zij dengan generasi Zij berikutnya. Berikutnya melalui data-data itu dapat dirumuskan gambaran mengenai benda-benda langit secara lebih presisi, yang dalam perkembangannya juga terus diperbarui. Seperti dikemukakan Ibn Khaldūn, penyusunan sebuah Zij dalam bentuk tabel-tabel adalah dalam rangka membantu dan memudahkan para pengkaji langit pemula, meski pada kenyataannya pengkaji profesionalpun mengambil manfaat dari data-data ini.
Arti penting Zij dalam konteks era modern adalah cikal bakal lahirnya apa yang dikenal dengan almanak dan atau ephemiris. Misalnya, “Ephemeris Hisab Rukyat” yang rutin dikeluarkan setiap tahun oleh Kementerian Agama RI dan “ad-Dalīl al-Falaky” yang juga rutin diterbitkan setiap tahun oleh “National Research Institute of Astronomy and Geophysics” Helwan-Mesir adalah bentuk konkret Zij kreasi astronom muslim silam. Sementara itu dalam kepentingan praktis sehari-hari, arti penting Zij adalah lahirnya kalender dinding tahunan dan buku agenda yang memuat data-data (momen) suatu peristiwa setiap tahun.[]
Medan, 16 Syakban 1434/25 Juni 2013
Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar
Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam