Tahun Baru 1435 Hijriah di Dunia Islam

Islamic Crescents’ Observation Project (ICOP) melaporkan bahwa permulaan tahun baru 1435 H terjadi perbedaan. Nigeria dan Uni Emirat Arab menetapkan tanggal 1 Muharam 1435 jatuh pada hari Senin bertepatan dengan tanggal 4 November 2013. Sementara itu sebelas negara lainnya, yaitu Al-Jazair, Mesir, Indonesia, Iran, Yordania, Libya, Maroko, Oman, Saudi Arabia, Sri Langka, dan Tunisia menetapkan tanggal 1 Muharam 1435 jatuh pada hari Selasa bertepatan dengan tanggal 5 November 2013.
Dalam praktiknya ditemukan ketidaksesuaian laporan ICOP dengan laporan media setempat. Misalnya harian Al-Ittihad (Uni Emirat Arab) melaporkan 1 Muharam 1435 jatuh pada hari Selasa bertepatan dengan tanggal 5 November 2013. Begitu pula “Saudi Gazette” (Saudi Arabia) melaporkan tanggal 1 Muharam 1435 jatuh pada hari Senin bertepatan dengan tanggal 4 November 2013. Perbedaan ini terjadi dikarenakan “Saudi Gazette” menggunakan kalender Ummul Qura, sedangkan pihak kerajaan Saudi Arabia berdasarkan laporan observasi pada hari Ahad petang bertepatan dengan tanggal 3 November 2013 yang menyatakan tidak berhasil melihat hilal. Oleh karena itu pihak Mahkamah Tinggi kerajaan Saudi Arabia yang diketuai Ghyb Muhammad Agheib memutuskan tanggal 1 Muharam 1435 jatuh pada hari Selasa bertepatan dengan tanggal 5 November 2013.
Di kawasan ASEAN, khususnya yang tergabung dalam MABIMS (Brunai Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapore) awal tahun baru 1435 H dimulai secara serentak yaitu pada hari Selasa bertepatan dengan tanggal 5 November 2013. Kebersamaan ini terjadi dikarenakan posisi hilal pada hari Ahad petang 3 November 2013 masih di bawah ufuk, tidak memenuhi standar minimal teori Visibilitas Hilal MABIMS, dan tidak adanya laporan keberhasilan melihat hilal di kawasan tersebut.
Selanjutnya para pemburu hilal tetap melakukan observasi pada hari Senin petang bertepatan dengan tanggal 4 November 2013. Sebagian besar berhasil dan mendokumentasikan dengan baik, seperti Hassan Talibi (Maroko), Sani Mustapha (Nigeria), Amman Salim Al-Rawahi (Oman), Javad Tarabinejad (Amerika Serikat), Hilal Sighting Committee of North America, dan Alireza Mehrani (Iran). Alireza melaporkan bahwa hilal terlihat di Isfahan (32 35’ 26,78’’ LU, 51 38’ 14,56’’ BT) pertama kali dengan mata pada pukul 17:34 LT, ketinggian hilal + 03 40’ 41’’, elongasi 09 18’ 07’’, dan umur bulan 25j 14m setelah ijtimak.

Bukit Angkasa, 3 Muharam 1435/7 November 2013, pukul 03.00 WIB

Susiknan Azhari

Sumber Foto : Hilal Sighting Committee of North America.

KALENDER ISLAM MENCARI TITIK TEMU ANTARA HISAB DAN RUKYAT


SETELAH
membaca tulisan Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi yang berjudul “Hakekat dan Substansi Idul Fitri” dan dimuat oleh majalah Qiblati secara bersambung ditemukan beberapa informasi menarik seputar hisab dan rukyat. Tulisan tersebut berjumlah 10 bagian dimuat selama 10 edisi, bagian pertama dimuat pada edisi 1 tahun VII, Dzulhijjah 1432 H/Nopember 2011 halaman 8-13, sedangkan bagian kesepuluh dimuat pada edisi 10 tahun VII, Ramadhan 1433 H/Agustus 2012 halaman 38-41.
Persoalan hisab dan rukyat merupakan persoalan klasik dan selalu aktual, khususnya ketika menjelang awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Tulisan ini tidak bermaksud mendiskusikan ulang dalil dan argumentasi para pendukung hisab dan rukyat. Hal ini disebabkan tulisan seputar hisab dan rukyat sudah banyak ditulis. Salah satu karya yang komprehensif mengupas tentang hisab dan rukyat ditulis oleh Zulfiqar Ali Shah (2009) dengan judul “The Astronomical Calculations and Ramadan A Fiqhi Discourse”. Baca Selanjutnya →