Rashdul Qiblah

27 Mei Saatnya Mengecek Kembali Arah Kiblat

Majalah TIRAS No. 48/Th. II/26 Desember 1996 melaporkan bahwa berdasarkan hasil penelitian kota Palembang arah kiblat masjidnya 23,82 % melenceng ke arah Utara dan 34,92 % ke arah Selatan Ka’bah. Hal yang sama juga terjadi di Cirebon dan Purwokerto. Hasil penelitian tim Badan Hisab Rukyat Daerah Istimewa Yogyakarta, di wilayah Yogyakarta juga ditemukan ada beberapa masjid arah kiblatnya kurang sesuai. Baru-baru ini 193.000 masjid di Indonesia diduga mengalami pergeseran. Abdul Kadir Karding Ketua Komisi VIII DPR RI menyatakan “….sedang terjadi pergeseran arah kiblat beberapa masjid di Indonesia. Rata-rata 0,7 – 1 derajat”. Berdasarkan kenyataan tersebut DPR meminta Kementerian Agama, khususnya Dirjen Bimas Islam untuk melakukan pengecekan.
Kasus semacam ini perlu dikaji secara komprehensif-asertif dan dikomunikasikan penuh kearifan serta tidak tergesa-gesa memaklumkan agar tidak menimbulkan polemik dikalangan masyarakat. Perlu dipahami perbedaan hasil perhitungan tersebut karena beberapa faktor, diantaranya cara penentuan arah, peralatan yang digunakan, dan data geografis Ka’bah. Data geografis Ka’bah yang berkembang didalam literatur astronomi Islam sangat beragam, seperti pendapat Saadoe’ddin Djambek, Ma’shum bin Ali, Mohammad Ilyas, Monzur Ahmed, dan Muhammad Basil at-Ta’i. Faktor lain yang tak kalah penting adalah tidak adanya berita acara penentuan arah kiblat. Sehingga tidak dapat dikomparasikan antara proses pengukuran terdahulu dengan sekarang.

Rasdul Qiblah sebuah solusi
Kesempatan yang sangat tepat untuk mengetahui secara presisi arah kiblat adalah saat posisi matahari berada tepat di atas Ka’bah (rasdul Qiblah). Posisi matahari tepat berada di atas Ka’bah akan terjadi ketika lintang Ka’bah sama dengan deklinasi matahari, pada saat itu matahari berkulminasi tepat di atas Ka’bah. Dengan demikian arah jatuhnya bayangan benda yang terkena cahaya matahari itu adalah arah kiblat.
Dalam setiap tahun akan ditemukan dua kali posisi matahari di atas Ka’bah. Pada tahun ini kesempatan tersebut datang pada tanggal 27 Mei 2012 pukul 11.57 LMT dan 15 Juli 2012 pukul 12.06 LMT. Bila waktu Mekah (LMT) dikonversi menjadi waktu Indonesia bagian barat (WIB) maka harus ditambah dengan 4 jam 21 menit sama dengan pukul 16.18 WIB dan 16.27 WIB. Oleh karena itu, setiap tanggal 27 Mei atau 28 Mei pukul 16.18 WIB dapat mengecek arah kiblat dengan mengandalkan bayangan matahari yang tengah berada di atas Ka’bah. Begitu pula setiap tanggal 15 Juli atau 16 Juli juga dapat dilakukan pengecekan arah kiblat dengan metode tersebut. Peristiwa ini juga dimuat dalam Kalender Muhammadiyah 2012 dan Almanak NU Tahun 2012.
Penentuan arah kiblat menggunakan bayangan matahari ini merupakan cara yang paling sederhana dan bebas hambatan. Penentuan dengan kompas masih bisa diganggu oleh pengaruh medan magnet. Dengan demikian arah mata angin yang ditetapkan berdasar jarum kompas, belum tentu menentukan arah yang sebenarnya. Dengan mengandalkan bayangan matahari yang tengah berada di atas Ka’bah, penentuan arah kiblat tidak terganggu oleh apapun. Hambatan terjadi kalau pada saat itu langit berawan. Dalam praktiknya, tidak perlu langkah yang rumit untuk menentukan arah kiblat berdasar jatuhnya bayangan benda yang disinari matahari. Pengamat (observer) cukup menggunakan tongkat atau benda lain sejenis untuk diletakkan di tempat yang memperoleh cahaya matahari. Cahaya matahari yang menyinari benda tersebut akan menghasilkan bayangan. Arah bayangan ini merupakan arah kiblat.
Penentuan arah kiblat dengan cara tersebut sejatinya bisa dilakukan di semua tempat di permukaan bumi. Hanya saja, waktunya berbeda. Area yang terpisah dari Ka’bah kurang dari 90 derajat, akan bisa melihat matahari yang posisinya sedang berada di atas Ka’bah. Wilayah yang terpisah lebih dari 90 derajat dari Ka’bah, sudah gelap saat matahari berada di posisi tersebut, Wilayah Indonesia bagian Barat (WIB) dan tengan (WITA), masih bisa menempuh cara ini untuk mengetahui arah kiblat. Sementara itu, Wilayah Indonesia bagian Timur (WIT) harus melakukannya di waktu yang lain. Dengan kata lain, cara ini dapat digunakan selama masih bisa melihat matahari. Bagi peneliti sebaiknya melakukan kajian bayang-bayang matahari sebelumnya hingga puncak peristiwa untuk memperolah data yang lebih komprehensif.
Fenomena ini membuka mata bahwa selain sebagai sumber energi, matahari juga merupakan alat untuk menciptakan bayang-bayang, dengan bayang-bayang tersebut manusia bisa menentukan arah. Penentuan arah kiblat dengan cara tersebut jauh lebih sederhana dibandingkan penentuan dengan cara lain. Tanpa mengandalkan cahaya maatahari, untuk menentukan arah kiblat perlu menemukan tiga hal penting, yakni posisi pengamat, posisi Ka’bah, dan arah mata angin.
Posisi pengamat berdasar lintang dan bujur geografis bisa ditentukan dengan mengandalkan global positioning system (GPS). Cara yang sama juga bisa digunakan untuk menentukan posisi Ka’bah. Langkah yang agak rumit harus ditempuh untuk menentukan arah mata angin secara tepat. Jarum yang ditunjukkan kompas, masih harus dipadu dengan data soal posisi kutub utara magnetik bumi. Setelah menemukan ketiganya, masih diperlukan proses perhitungan yang tidak sederhana. Oleh karena itu dianjurkan agar umat Islam menjadikan kesempatan posisi matahari di atas Ka’bah pada tanggal 27 Mei 2012 hari nanti sebagai momentum penentuan arah kiblat. Penentuan ini juga perlu dilakukan di lapangan yang sering dipakai salat Id, juga mushala di perkantoran.
Wa Allahu a’lam bi as-Sawab

Bukit Angkasa, 23 Jumadil akhir 1433/15 Mei 2012, pukul 03.30 WIB.

Susiknan Azhari

Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam

3 thoughts on “27 Mei Saatnya Mengecek Kembali Arah Kiblat”

  1. saya melihat, dan sedikit bertanya kepada umat di pelosok desa, bahwa kenyataan masjid ataupun langgar masih menggunakan metode yg kurang jelas dalam pengukuran arah kiblat. Hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk mengkaji dan meluruskannya.

    1. Perlu kearifan berdialog dengan mereka agar tidak menimbulkan persoalan baru. Niat dan metode yang baik akan menghasilkan sesuatu yang positif. Sekali lagi jangan “menggurui” berdialoglah dengan penuh kearifan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>