FENOMENA penentuan awal Syawal senantiasa menarik perhatian masyarakat luas, khususnya para pemerhati dan pengkaji studi astronomi Islam. Hal ini terkait dengan anggitan hilal yang diyakini dan dipraktikkan. Pada kasus penentuan awal Syawal 1435 di dunia Islam terjadi perbedaan. Menurut laporan Islamic Crescent’s Observation Project (ICOP) terdapat 20 negara yang menentukan awal Syawal 1435 jatuh pada hari Senin bertepatan dengan tanggal 28 Juli 2014, yaitu Aljazair, Bahrain, Mesir, Ghana, Indonesia, Irak, Yordan, Kuwait, Libanon, Libya, Malaysia, Palestina, Qatar, Saudi Arabia, Sudan, Syiria, Tunisia, Turki, Uni Emirat Arab, dan Yaman.
Sementara itu yang lain menetapkan awal Syawal 1435 jatuh pada hari Selasa bertepatan dengan tanggal 29 Juli 2014 berjumlah tujuh negara, yaitu Banglades, Brunai Darussalam, Iran, Maroko, Oman, Srilangka, dan Tanzania. Selain itu ada pula yang menetapkan awal Syawal 1435 jatuh pada hari Ahad bertepatan dengan tanggal 27 Juli 2014 yaitu Nigeria dan Tariqat Naqsyabandiyah Padang Indonesia.
Selanjutnya ICOP juga melaporkan bahwa para anggota yang melakukan observasi pada hari Ahad tanggal 27 Juli 2014 di berbagai belahan dunia dan berhasil melihat hilal hanya tiga orang yaitu Martin Elsaesser di kota Munich dengan menggunakan Charge Couple Device (CCD) Imaging, Mohammad Odeh di kota Amman dengan menggunakan CCD Imaging, dan Abdelhamid Bentchikou di kota Faaa dengan mata telanjang.
Begitu pula di kawasan MABIMS yang berhasil melihat hilal awal Syawal 1435 hanya Indonesia. Menurut pemaparan Direktur Urusan Agama Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Muchtar Ali pada saat sidang isbat yang dipimpin oleh Menteri Agama RI Lukman Hakim Saefuddin bahwa tim observasi yang disebar pada 111 lokasi observasi di seluruh Indonesia yang berhasil melihat hilal ada tiga tempat yaitu Pelabuhan Ratu Sukabumi, Bukit Condrodipuro Gresik, dan Kolaka Sulawesi Tenggara.
Kasus ini menarik untuk dikaji ulang, khususnya di kawasan anggota MABIMS. Pertama berdasarkan data hisab secara umum kawasan MABIMS telah memenuhi teori visibilitas hilal yang disepakati. Namun dalam praktiknya hanya wilayah Indonesia yang berhasil melihat hilal. Kedua, bahwa teori visibilitas hilal apapun yang digunakan belum mampu meyakinkan dan terulang secara berkesinambungan.
Pada kasus pertama menunjukkan implementasi teori visibilitas hilal MABIMS berbeda-beda. Singapore dan Malaysia menggunakannya secara konsisten dalam pembuatan kalender Islam sejak Muharam hingga Zulhijah tidak menunggu hasil observasi sehingga diperoleh kepastian jauh-jauh hari. Artinya “menutup ketidakpastian diutamakan demi terwujudnya kalender Islam”. Pemerintah Indonesia dan Brunai Darussalam menjadikan teori visibilitas hilal MABIMS sebagai pemandu untuk melakukan observasi menentukan awal Ramadan dan Syawal. Dengan kata lain sebagai penentu untuk menetapkan awal Ramadan dan Syawal adalah observasi (rukyatul hilal) di lapangan.
Hanya saja, selama ini di Indonesia jika berdasarkan data hisab posisi hilal sudah memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS maka ada laporan keberhasilan melihat hilal sehingga dalam menentukan awal Ramadan dan Syawal dapat bersamaan dengan teori wujudul hilal yang digunakan Muhammadiyah, sedangkan di Brunai Darussalam meskipun data hisab menunjukkan posisi hilal telah memenuhi teori visibilitas hilal MABIMS namun dalam praktiknya seringkali hilal tidak terlihat. Sehingga negara Brunai Darussalam sering berbeda dengan anggota MABIMS lainnya dalam memulai Ramadan dan Syawal. Bukti kongkretnya adalah penentuan awal Syawal tahun ini. Mayoritas anggota MABIMS menentukan awal Syawal 1435 jatuh pada hari Senin 28 Juli 2014, sedangkan Brunai Darussalam menentukan awal Syawal 1435 jatuh pada hari Selasa 29 Juli 2014 karena pada hari Ahad tanggal 27 Juli 2014 tim pengamat hilal tidak berhasil melihat hilal. Oleh karena itu bulan Ramadan 1435 disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal).
Hal ini juga dilaporkan oleh Hilal Sighting Committee of North America (HSCA) dan Australian National Crescent Sighting yang menetapkan awal Syawal 1435 jatuh pada hari Selasa 29 Juli 2014 karena pada hari Ahad tanggal 27 Juli 2014 tim pengamat hilal tidak berhasil melihat hilal.
Pada kasus kedua tergambar bahwa anggitan visibilitas hilal belum memiliki epistemologi yang mapan. Terbukti antara teori dan praktik di lapangan sering tidak bersesuaian sehingga perlu adanya redefinisi terhadap anggitan visibiltas hilal. Langkah ini perlu ditempuh agar pemahaman terhadap hilal tidak terjebak pada subjektivitas masing-masing. Hilalku dan hilalmu perlu diwujudkan menjadi “hilal kita”. Perubahan paradigm ini tentu saja memerlukan kesiapan berbagai pihak untuk berkorban demi terwujudnya kalender Islam yang dapat diterima semua pihak.
Wa Allahu A’lam bi as-Sawab.
Bukit Angkasa, 29 Syawal 1435/25 Agustus 2014, pukul 06.30 AM.
Susiknan Azhari
Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam