
Pada hari Jum’at 25 Rabiul Awal 1441/22 November 2019 yang lalu diselenggarakan Kuliah Umum “Ilmu Falak di Alam Melayu Cabaran dan Prospek” di Balai Ilmu Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya Malaysia. Kegiatan tersebut dihadiri para mahasiswa program astronomi Islam, berbagai instansi dan para tokoh astronomi Islam di Malaysia, seperti Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM), Para Mufti Negeri, Profesor. Dato’. Dr. Zambri Zainuddin, Profesor Madya. Dr. Saadan Man, Dr. Mohd Saiful Anwar Mohd Nawawi, Dr. Raihanah Abdul Wahab, dan Shahrin Ahmad (Falak Online) dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Susiknan Azhari (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). Tujuan kegiatan ini adalah untuk mempererat tali silaturahim dan pengembangan astronomi Islam di Alam Melayu. Dalam uraiannya Prof. Susiknan Azhari menjelaskan bahwa tokoh awal dalam pengembangan studi astronomi Islam di Alam Melayu adalah Syekh Taher Jalaluddin. Beliau lahir di Indonesia dan meninggal di Malaysia. Di Indonesia Syekh Taher dikenal sebagai bapak falak Indonesia. Sayangnya literatur yang menjelaskan tentang peran beliau dalam pengembangan astronomi Islam tidak banyak dijumpai di Perpustakaan Indonesia sebaliknya di Malaysia sangat banyak dan tersimpan rapi di Perpustakaan Negara. Di Malaysia beliau sangat berjasa dalam pengembangan studi astronomi Islam sehingga memperoleh tempat bagi Masyarakat Malaysia, khususnya para pengkaji astronomi Islam. Selanjutnya tokoh yang berjasa dalam pengembangan studi astronomi Islam di Lingkungan Perguruan Tinggi Indonesia dan Malaysia adalah Saadoe’ddin Jambek dan Mohd. Khair bin Hj Mohd Taib. Saadoe’ddin Jambek merupakan dosen falak pertama di Lingkungan Peguruan Tinggi Agama Islam Negeri (IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). Sementara itu Mohd. Khair bin Hj Mohd Taib adalah perintis berdirinya Unit Falak di Jabatan Syariah Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang kajian astronomi Islam berkembang di berbagai Perguruan Tinggi baik di Indonesia maupun Malaysia, seperti UIN Walisosngo Semarang, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Alauddin Makassar, UNISZA Terengganu, Universiti Sains Malaysia, dan Program Astronomi Islam APIUM. Di Bidang instrumen astronomi juga berkembang pesat melalui kehadiran berbagai observatorium, seperti Observatorium Bosscha, Planetarium Jakarta, Observatorium As-Salam Solo, Observatorium Ilmu Falak (OIF) UMSU Medan, Nahdlatul Ulama Mobile Observatory, Obseravtorium Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Watoe Dhakon Observatory, Balai Cerap Al-Khawarizmi Melaka, Balai Cerap Al-Biruni Sabah, Balai Cerap Negara Langkawi, dan Komplek Baitul Hilal Teluk Kemang Negeri Sembilan. Dalam pertemuan ini juga mengharapkan program astronomi Islam APIUM berperan aktif dan menjadi jembatan untuk pengembangan astronomi Islam di kawasan Thailand dan sekitarnya. Begitu pula perlu dibuat master plan pengembangan studi astronomi Islam di kawasan serantau, khususnya Indonesia dan Malaysia.
Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam.