Observatorium dan Kemajuan Bangsa

20 Juli 2014

 DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia halaman 794 observatorium diartikan gedung yang dilengkapi alat-alat (teleskop, teropong bintang, dsb) untuk keperluan pengamatan dan penelitian ilmiah tentang bintang dsb, sedangkan dalam studi astronomi Islam seringkali diistilahkan dengan “marshad”. Aydin Sayili dalam bukunya yang berjudul “The Observatory in Islam” terbit pertama pada tahun 1960 menjelaskan perkembangan observatorium dari awal hingga era modern. Berbagai literatur lain menyebutkan rintisan pembuatan observatorium telah dimulai pada zaman Umayyah. Menurut Drayer sebagaimana dikutip Aydin Sayili pada masa kekhalifahan Umayyah telah dibangun observatorium dekat kota Damaskus. Pandangan ini dikuatkan oleh Pushmann. Selanjutnya ia menyatakan pada masa kekhalifahan Umayyah telah dibangun beberapa observatorium di kota Damaskus.

Pada masa Abbasiyyah khususnya era al-Ma’mun perkembangan observatorium mengalami peningkatan yang luar biasa. Pihak penguasa memberi perhatian dalam pembangunan observatorium. Khalifah al-Ma’mun membangun observatorium Syammasiyah dekat Baghdad. Hal ini dilakukan agar ilmu astronomi Islam dan ilmu pengetahuan yang lain dapat dikembangkan lebih jauh melalui berbagai riset untuk menemukan “teori baru”. Bangunan observatorium ini kemudian digunakan para ilmuwan, seperti al-Khawarizmi dan al-Biruni.

Pada saat itu menurut David A King salah satu aktivitas penting yang dilakukan para astronom adalah melakukan pengukuran koordinat geografis kota Mekah secara akurat agar arah kiblat kota Baghdad dapat ditentukan. Ibn Yunus salah seorang tokoh astronomi Islam abad 11 menjelaskan arah kiblat kota Mesir dalam buku yang berjudul Hakimi Zij Ibn Yunus. Sementara itu al-Khalili (1375 M/777 H) menjelaskan 3000 arah kiblat kota-kota besar sedunia.

Selanjutnya pada pertengahan abad ketiga belas didirikan observatorium Maragha atas inisiatif Hulagu dan dikoordinir oleh Nashiruddin at-Tusi. Menurut Aydin Sayili biaya pembangunan observatorium berasal dari keluarga Hulagu yang pembangunannya dimulai pada bulan Jumadil Awal 657 H/April-Mei 1259 M. Pada abad kelima belas didirikan observatorium Samarkand. Pembagunan observatorium ini diprakarsai oleh Timur (771-808 H/1369-1405 M) yang berusaha menjadikan kota Samarkand sebagai pusat peradaban Islam di kawasan Timur atau diistilahkan “Renaissance in Islamic Art”. Gagasan ini direspons positif oleh Muhammad Turgay Ulugh yang merupakan cucu dari Timur. Ulugh Bey memiliki minat yang tinggi di bidang astronomi. Bagi Ulugh Bey gagasan pembangunan observatorium perlu diapresiasi karena saat itu dikhotomi keilmuan kurang menguntungkan bagi kemajuan Islam. Kebetulan dia sedang menjabat sebagai gubernur di Khurasan sehingga memiliki kekuatan untuk mewujudkan impiannya mengintegrasikan antara “teologi dan sains” melalui pembangunan observatorium dan madrasah sekaligus. Kehadiran observatorium dan madrasah dijadikan jembatan untuk mendialogkan persoalan-persoalan agama dan sains. Dari sini lahirlah berbagai karya monumental. Salah satu karya terpenting yang hingga kini masih menjadi bahan kajian di bidang astronomi Islam, yaitu “Zij Ulugh Bey”.

Tak kalah penting pada abad keenam belas didirikan observatorium Istanbul. Pendirian observatorium ini dilatarbelakangi pertemuan Taqi al-Din Muhammad Rashid Ibn Ma’ruf dengan salah seorang astronom terkenal ketika menjabat sebagai hakim di Mesir. Hasil pertemuan ini menginspirasi Taqi al-Din untuk membangun observatorium di kota Istanbul. Kemudian Taqi al-Din mempersiapkan proposal yang bagus dan dipresentasikan di depan tim ahli. Akhirnya Sultan mengabulkan pendirian observatorium di kota Istanbul.

Pada masa kini di belahan dunia Islam terdapat berbagai observatorium yang digunakan sebagai pos observasi, seperti observatorium Hilwan Mesir, King Abdul Aziz City for Science and Technology (KACST) Saudi Arabia, dan Balai Cerap Al-Khawarizmi Malaka Malaysia. Keberadaan ketiga observatorium ini memberi kontribusi positif bagi pengembangan studi astronomi Islam, khususnya berkaitan dengan kalender Islam. Observatorium Hilwan dan KACST setiap tahun menerbitkan data observasi awal bulan kamariah dengan judul “Dalil al-Falaky”dan “Ahwal al-Ahillah”, sedangkan Balai Cerap Al-Khawarizmi melakukan observasi setiap awal bulan kamariah. Indonesia sebagai negara yang berpenduduk mayoritas muslim juga memiliki observatorium yang megah. Salah satunya adalah Observatorium Bosscha. Menurut hemat penulis keberadaannya perlu dimaksimalkan untuk mewujudkan “Zij Indonesia”. Investasi di bidang riset perlu kiranya diindahkan oleh penentu kebijakan. Apalagi jika “Indonesia Maju dan Berdaulat” ingin diwujudkan maka kehadiran berbagai observatorium dalam arti luas mendesak dicanangkan oleh pemerintahan yang baru ke depan.

Wa Allahu A’lam bi as-Sawab.

Bukit Angkasa, 14 Jumadil akhir 1435/ 14 April 2014, pukul 03.30 AM

Susiknan Azhari

 

Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam

Leave a Reply