Perbandingan Tarikh : antara Cita dan Fakta

19 April 2013

Dalam studi astronomi Islam dikenal istilah “Perbandingan Tarikh” atau Tahwil as-Sanah. Berbagai literatur mendefinisikan perbandingan tarikh adalah konversi kalender miladiah ke dalam kalender hijriah atau sebaliknya konversi kalender hijriah ke dalam kalender miladiah. Adapun yang dimaksud perbandingan tarikh dalam tulisan ini adalah penggunaan kalender miladiah dan kalender hijriah secara bersama-sama.
Di dalam ajaran Islam persoalan perbandingan tarikh diinformasikan melalui Q.S. Al-Kahfi ayat 25 yang sekaligus memberikan inspirasi bagi kaum muslim agar senantiasa memerhatikan solar calendar dan lunar calendar. Dalam praktiknya, Kalender Miladiah atau biasa disebut Kalender Masehi digunakan sebagai acuan untuk kepentingan transaksi atau perjanjian, sedangkan Kalender Hijriah digunakan untuk penjadwalan waktu ibadah dan hari-hari besar Islam.
Memerhatikan kenyataan ini umat Islam perlu menyadari pentingnya penggunaan perbandingan tarikh dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, tulisan ini ingin melihat sejauhmana perhatian kaum muslim dalam penggunaan perbandingan tarikh tersebut.
Untuk melihat penggunaan perbandingan tarikh dalam kehidupan sehari-hari. Mula pertama yang penulis lakukan adalah mengelompokkan karya-karya monumental dari kalangan muslim dan non muslim yang bernuansa historis. Kedua, meneliti surat-surat, majalah, dan dokumen terkait.
Karya-karya sejarah yang dimaksud adalah (1) Tarikh al-Umam wa al-Mulk ditulis oleh Abu Ja’far Muhammad Ibn Jarir at-Tabari, (2) Tarikhut Tarbiyyah al-Islamiyyah ditulis oleh Ahmad Sjalabi, (3) Zu’ama al-Islah ditulis oleh Ahmad Amin, (4) Islamic History and Culture from 632-1968 ditulis Hassan Ibrahim Hassan, (5) Sejarah Kebudayaan Islam karya A. Hasmy, (6) Sejarah Daulat Abbasiah I karya Joesoef Sou’yb, (7) Pengantar Sejarah Muslim ditulis oleh H. Nourouzzaman Shiddiqi, (8) A History of Islamic Societies karya Ira M. Lapidus, (9) The Venture of Islam Conscience and History in a World Civilization karya Marshall G. S. Hodgson, (10) Hayatu Muhammad karya Muhammad Husain Haekal, dan (11) A History of Muslim Philosophy karya M.M. Syarif. Berdasarkan pembacaan penulis terhadap karya-karya tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
Pertama Tarikh al-Umam wa al-Mulk, karya at-Tabari ini merupakan kitab standar dalam studi sejarah. Kitab yang berjumlah 12 juz ini menceritakan peristiwa-peristiwa sejarah mulai tahun 1 Hijriah hingga tahun 161 Hijriah. Dalam uraiannya kalender yang digunakan adalah Kalender Hijriah, kecuali pada halaman 6 juz 1 disebutkan tahun masehi dan tahun hijriah. Namun kedua-duanya tidak menggunakan perbandingan tarikh. Dengan demikian dapat dinyatakan buku yang setebal 12 juz ini tidak menggunakan perbandingan tarikh.
Kedua, Tarikhut Tarbiyah al-Islamiyyah karya Ahmad Sjalabi. Dalam karya ini Ahmad Sjalabi ketika menyebut tokoh-tokoh lain menggunakan Kalender Hijriah dan tidak menggunakan perbandingan tarikh. Sementara itu Kalender Miladiah digunakan sebanyak 4 kali ketika menjelaskan perjalanannya ke suatu tempat (p. 100, 118, 174, dan 401). Dengan kata lain dalam karya Ahmad Sjalabi ini tidak menggunakanperbandingan tarikh.
Ketiga, Zu’ama’ al-Islah karya Ahmad Amin. Dalam buku ini sebagian besar menggunakan perbandingan tarikh kecuali pada halaman 129 tidak menggunakan perbandingan tarikh. Diantara data perbandingan tarikh yang ditampilkan ditemukan ada yang kurang akurat, yakni pada halaman 158 (1225-1307 H/1810-1879 M). Pendapat ini juga diikuti H.A Mukti Ali dalam bukunya yang berjudul Alam Pikiran Islam Modern di Timur Tengah pada halaman 188. Menurut hasil perhitungan penulis tahun 1879 M bila dikonversi ke dalam Kalender Hijriah jatuh pada tahun 1297 bukan 1307 H.
Keempat, Islamic History and Culture from 632-1968 oleh Hassan Ibrahim Hassan. Penulis buku ini nampaknya menaruh perhatian terhadap perbandingan tarikh. Hampir setiap menyebut tahun ia menggunakan perbandingan tarikh, kecuali pada halaman 169 ia hanya menyebut tahun kamariah.
Kelima, Sejarah Kebudayaan Islam oleh A. Hasmy. Dalam buku ini ada tiga tipologi. Pertama, hanya menggunakan Kalender Miladiah, kedua, hanya menggunakan Kalender kamariah, dan ketiga menggunakan perbandingan tarikh. Sebagai contoh pada halaman 272-304 hanya menggunakan Kalender Kamariah, pada halaman 318 hanya menggunakan Kalender Miladiah, dan perbandingan tarikh hanya digunakan pada halaman 43.
Keenam, Sejarah Daulat Abbasiah I oleh Joesoef Sou’yb. Tahun-tahun yang digunakan dalam buku ini kebanyakan menggunakan perbandingan tarikh, kecuali pada halaman 10, 78, 113, 193, 225, dan 229 hanya menggunakan Kalender Miladiah.
Ketujuh, Pengantar Sejarah Musliam oleh Nourouzzaman Shiddiqi. Dalam buku ini penggunaan tahun ada dua tipologi. Pertama menggunakan perbandingan tarikh dan yang kedua hanya menggunakan Kalender Miladiah (misal halaman 4-5, 66-69, dan 69-71). Diantara yang menggunakan perbandingan tarikh ditemukan tiga perbandingan tarikh yang kurang akurat. Perbandingan tarikh yang dimaksud adalah mengenai tahun wafat Abu Mikhnaf (w. 157 H/174 M, tahun wafat Ibn al-Mukaffa (139 H/56 M), dan tahun wafat al-Mas’udi (345 H/95 M).
Kedelapan, A History of Islamic Societies karya Ira M. Lapidus. Dalam buku ini penulis ketika menyebutkan suatu peristiwa hanya menggunakan Kalender Miladiah. Dengan kata lain karya Ira M. Lapidus ini tidak menggunakan perbandingan tarikh.
Kesembilan, The Venture of Islam Conscience and History in a World Civilization karya Marshall G. S. Hudgson. Dalam buku ini Hudgson menawarkan teori perbandingan tarikh. Namun dalam operasionalnya buku ini hanya menggunakan Kalender Miladiah. Oleh karena itu sangat disayangkan karya Hodgson ini tidak menggunakan perabandingan tarikh.
Kesepuluh, Hayatu Muhammad karya Husain Haikal. Haekal nampaknya tidak memiliki perhatian dalam perbandingan tarikh. Ia hanya menggunakan Kalender Miladiah dan tidak ditemukan sama sekali tahun-tahun yang disebut menggunakan perbandingan tarikh.
Kesebelas, A History of Muslim Philosophy karya M.M Syarif. Penulis buku ini nampaknya menaruh perhatian terhadap perbandingan tarikh. Hampir setiap menyebut tahun ia menggunakan perbandingan tarikh, kecuali pada halaman 1426 dan 1590 ia hanya menggunakan Kalender Miladiah.
Selain buku-buku yang bernuansa historis tersebut, penulis menemukan berbagai surat kabar dan majalah yang menggunakan perbandingan tarikh secara konsisten, seperti Al-Madinah (Saudi Arabia), Al-Ahram (Mesir), Asy-Syuruq (Qatar), Al-Fajar (Al-Jazair), Akhbar al-Khalij (Bahrain), Utusan (Malaysia), dan Republika, Suara Muhammadiyah, Risalah, Al-Muslimun, Hidayatullah, Sabili, Qiblati (Indonesia). Majalah Ummi juga menggunakan perbadingan tarikh tetapi hanya mencantumkan tahun saja. Misalnya pada edisi no 3 : XXV/Maret 2013/1434 H. Salah satu pondok di Indonesia yang secara konsisten menggunakan perbandingan tarikh adalah Pondok Modern Gontor Ponorogo. Kenyataan ini tentu sangat menggembirakan. Namun jika dicermati secara seksama dapat dinyatakan bahwa kesadaran kaum muslim dalam penggunaan perbandingan tarikh masih perlu ditingkatkan. Bahkan Kementerian Agama Republik Indonesia pun masih jarang atau bahkan belum menggunakan perbandingan tarikh. Hal ini dapat dilihat pada surat-surat yang dikeluarkan. Misalnya Surat Edaran Menteri Agama Nomor : MA/39/2013 tentang “Himbauan Tentang Grativikasi” tertanggal 26 Februari 2013. Dengan kata lain di lingkungan Kementerian Agama RI dalam surat-menyurat hanya menggunakan kalender masehi saja.
Kenyataan lain yang perlu diperhatikan kaitannya dengan perbandingan tarikh adalah adanya kecenderungan atau kebiasaan yang kurang hati-hati dalam penulisan tahun suatu peristiwa yang dikonversi ke dalam tahun hijriah atau sebaliknya. Seakan-akan perbandingan tarikh itu tanpa makna. Padahal di dalamnya terkandung kesadaran waktu yang tinggi. Kesadaran waktu sangat dibutuhkan dalam pisau bedah historis karena pergeseran waktu akan menimbulkan interpretasi yang berbeda.
Selanjutnya dapat diperhatikan beberapa contoh perbandingan tarikh yang kurang akurat, seperti tentang usia al-Farabi, dalam buku Filsafat Islam yang disunting Sutardji Calzoum Bachri, Ahmad Fuad al-Ahwani menyebutkan bahwa tahun kelahiran dan kematian al-Farabi adalah 259-339 H/850-950 M, dengan kata lain al-Farabi berusia 80 tahun kamariah atau 100 tahun masehi. Hal ini jelas tidak logis, karena bilangan hari dalam tahun kamariah lebih kecil, yakni 354 hari untuk tahun basitah atau 355 hari untuk tahun kabisat. Sementara itu satu tahun menurut Kalender Miladiah adalah 365 hari untuk tahun basitah atu 366 hari untuk tahun kabisat. Oleh karena itu seharusnya jumlah tahun kamariah lebih besar dibandingkan tahun kamariah. Menurut perhitungan penulis tahun 259 H bila dikonversi ke dalam Kalender Miladiah menunjuk pada tahun 872 M. Dengan demikian usia al-Farabi adalah 80 tahun jika dihitung berdasarkan Kalender Kamariah atau 78 tahun bila dihitung berdasarkan Kalender Miladiah.
Begitu halnya Osman Bakkar dalam bukunya yang berjudul Classification of Knowledge in Islam: A Study in Islamic Philosopies of Science yang diterjemahkan oleh Purwanto menjelaskan bahwa kelahiran al-Farabi adalah 257 H/890 M. Menurut penulis perbandingan tarikh ini kurang tepat. Berdasarkan hasil perhitungan penulis tahun 257 H jika dikonversi ke dalam Kalender Miladiah jatuh pada tahun 870 M. Contoh lain yang senada dengan kasus perbandingan tarikh ini adalah mengenai usia Suhrawardi.

Wa Allahu A’lam bi as-Sawab.

Bukit Angkasa, 9 Jumadil akhir 1434/20 April 2013, pukul 03.30 AM.

Susiknan Azhari

Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam

Leave a Reply