Sistem Kalender Islam

16 Maret 2012

PENGGUNAAN SISTEM HISAB RUKYAT DI INDONESIA
Studi tentang Interaksi Muhammadiyah dan NU

Oleh : Susiknan Azhari

Penelitian ini mengkaji tentang persoalan hisab dan rukyat, dengan memfokuskan pada dua ormas besar, yaitu Muhammadiyah dan NU. Pemilihan ini didasarkan bahwa Muhammadiyah dan NU bagi banyak kalangan merupakan simbol perbedaan, bahkan perpecahan di kalangan umat Islam Indonesia. Kaitannya dengan pemikiran Kalender Hijriah Indonesia, perbedaan yang nampak antara Muhammadiyah dan NU terletak pada hisab dan rukyat. Bahkan yang sering terjadi, pemilihan dan penggunaan hisab dan rukyat tersebut hanya terfokus pada awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah, padahal Kalender Hijriah merupakan satu kesatuan. Berdasarkan latar belakang di atas, yang menjadi pokok permasalahan adalah bagaimana dinamika hubungan Muhammadiyah dan NU akibat menggunakan hisab dan rukyat dalam memformulasi Kalender Hijriah, dan faktor-faktor apa yang memengaruhi hubungan tersebut? Dalam rangka menemukan jawaban permasalahan tersebut, penulis merumuskan dan menurunkan kerangka teori yang dikembangkan oleh Ian G. Barbour, yaitu Pertentangan (Conflict), Perpisahan (Independent), Perbincangan (Dialogue), dan Perpaduan (Integration). Adapun metode penelitian yang dipergunakan adalah analisis sejarah (historical analysis) dan hermeneutis-dialektis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan Muhammadiyah dan NU dalam menggunakan hisab dan rukyat, saat menentukan awal bulan kamariah (awal Ramadan dan Syawal) memiliki pola beragam. Paham pertama adalah konflik. Hubungan Muhammadiyah dan NU pernah diwarnai konflik yang dipicu oleh persoalan politik dan perbedaan cara pandang keagamaan (doktrin agama dan sumber hukum). Muhammadiyah berpandangan antara wahyu dan akal harus berjalan seirama dalam rangka menuju masyarakat utama. Di sisi lain NU berpandangan dalam beragama harus melalui sanad yang jelas atau melalui pendekatan mazhab agar diperoleh kepastian hukum. Kaitannya dengan persoalan penetapan awal Ramadan dan Syawal, NU mendasarkan pada rukyatul hilal, karena rukyatul hilal dianggap memiliki sanad yang jelas melalui kitab-kitab yang mu’tabarah. Sementara itu, Muhammadiyah mempertautkan antara dimensi ideal wahyu dan peradaban manusia. Karena itu, dalam menetapkan awal Ramadan dan Syawal Muhammadiyah tidak semata-mata dengan rukyat, tapi juga menggunakan hisab. Mula pertama hisab yang digunakan Muhammadiyah adalah imkan al-ru’yat, kemudian hisab hakiki dengan kriteria ijtima’ qabla al-ghurub, dan sejak tahun 1938 M/1357 H hingga sekarang menggunakan hisab wujudul hilal. Penting untuk dicatat bahwa konflik terjadi ketika metodologi berubah menjadi ideologi. Adapun tipologi kedua adalah independensi. Model ini untuk menghindari konflik antara hisab dan rukyat. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan pragmatis belaka bahwa lebih baik hisab dan rukyat dipisah dalam dua kawasan yang berbeda, khususnya dalam penetapan awal Ramadan dan Syawal untuk menghindari konflik yang melelahkan antara Muhammadiyah dan NU. Tipologi ketiga adalah dialog. Bukti yang memperlihatkan perkembangan baru ini adalah terbentuknya Badan Hisab dan Rukyat. Model dialog memotret hubungan yang lebih konstruktif antara Muhammadiyah dan NU, terutama persoalan hisab dan rukyat. Pada tipologi ini masing-masing pihak mencoba saling memahami untuk mencari titik temu dengan memerhatikan aspek kesejajaran metode antara hisab dan rukyat. Dialog menekankan kemiripan dalam pra-anggapan dan metode. Sebaliknya, independensi menekankan perbedaan. Namun, model dialog tidak menawarkan kesatuan konseptual. Tipologi keempat adalah integrasi. Pandangan integrasi ini merupakan konsekuensi logis dan sekaligus tuntutan alamiah dari pandangan dialog. Model integrasi sebagai pilihan yang menjanjikan dan membawa harapan yang konstruktif bagi hubungan Muhammadiyah dan NU, serta jalan yang tepat untuk memformulasi Kalender Hijriah Nasional dengan mengintegrasikan nalar rasional ilmiah dan nalar literal inderawi melalui mazhab negara yang akademik ilmiah. Sementara itu, faktor-faktor yang memengaruhi hubungan Muhammadiyah dan NU dalam menggunakan hisab dan rukyat adalah sosial-politik, pemahaman dan doktrin keagamaan, dan sikap terhadap ilmu pengetahuan. Dari beberapa hal yang menjadi kesimpulan, penelitian ini memberi kontribusi, pertama dapat memetakan karakteristik hubungan Muhammadiyah dan NU dalam menggunakan hisab dan rukyat. Kedua, dengan mengetahui tipologi hubungan Muhammadiyah dan NU dalam menggunakan hisab rukyat; akan dapat ditumbuhkan ukhuwah di tengah perbedaan dan dikembangkan kebersamaan dalam memformulasi Kalender Hijriah Nasional ke depan.

Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam

Leave a Reply